Blogroll

Tampilkan postingan dengan label ma'rifat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ma'rifat. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Mei 2014

Tasawuf dan Etika Pembebasan

 Setiap kata ”Pembebasan” muncul, selalu terbayang soal belenggu,penjajahan, tekanan, beban, derita, dan sejumlah situasi buruk atau pun kebudayaan yang menekan mentalitas manusia.

Seluruh usaha intelektualisme maupun gerakan psikologi pembebasan terus berupaya menyelesaikan belenggu-belenggu kemanusiaan ini, dan hanya berakhir dengan beberapa penyelesaian:

Pseudo Solution atau penyelesaian yang semu, karena hanya menyentuh aspek pinggirian eksistensi manusia itu sendiri. Lalu diikuti oleh cara-cara instan, semacam ”pemadam kebakaran” belaka.

Penyelesaian egoistis, yang mengeksplorasi kemampuan, kekuatan, kehebatan dan eksistensi ”keakuan” sebagai perlawanan atas penderitaan yang selama ini ada. Lalu muncul jargon psikologis, ”Aku Bisa...!Aku Berdaya...!Aku Mampu....Aku Hebat!”. Solusi ini menimbulkan kekuatan egois yang luar biasa, tetapi dengan karakter arogansif, diktator, opressif, dan pengabaian nilai-nilai Ketuhanan.

Solusi passif, pembiaran atas masalah dengan asumsi akan selesai dengan sendirinya.

Dalam gerakan pemikiran dan dakwah agama, seringkali bentuk-bentuk pembebasan dimunculkan melalui:

Perlawanan yang frontal dan radikal terhadap apa pun yang berbeda dan mengancam.

”Pelarian-pelarian semu” pada agama, dengan bersembunyi dibalik ”takdir, Kebesaran Tuhan,  Kehendak Tuhan, dan sebagainya...” tanpa proses edukasi dan pemahaman apa yang disebut dalam firman Allah Swt ”Larilah kalian kepada Allah Swt...”

Agama dijadikan lahan industri ekonomi sebagai cara membebaskan diri dari himpitan sosial dan ekonomi,  dan malah berakhir dengan ”tragedi industri agama” yang memuakkan. Kasus ”Islam Tontonan” dibanding ”Tuntunan”  menjadi reprensentasi paling sederhana.

Agama dijadikan solusi pembebasan, tetapi tidak pada akar fundamental agama maupun hakikat kemanusiaannya, sehingga interaksi agama dan manusia hanyalah interaksi dari kulit ke kulit.

Agama tidak dimaujudkan dalam keutuhan beragama, tetapi  elemen-elemen agama malah dijadikan sejumlah poitensi konflik untuk saling dibenturkan.

Dalam proses pembebesan sedemikian rupa, posisi manusia, agama dan Allah Swt, bukannya hadir dalam bentuk interaksi yang beradab, tetapi malah berada dalam posisi saling menuding. Dan itulah sekulerisme paling maniak dalam kehidupan beragama kita.

Dalam tataran keagamaan (Islam), proses pembebasan dijadikan bagian paling fundamental dalam kehidupan. Dan karena itulah dimunculkan hubungan-hubungan Ketuhanan yang bersentuhan langsung dalam eksistensi diri manusia: yang terdiri dari aspek lahiriyah, aspek bathiniyah, dan aspek rahasia bathin.

Reposisi yang tegas disampaikan oleh Rasulullah saw, melalui ajaran Islam, Iman dan Ihsan. Ketiga aspek yang sangat berpengaruh dalam peradaban ummat Islam sepanjang masa, dan kelak jugamempengaruhi proses-proses konflik dan damai dalam dinamika sejarahnya.

[B]PEMBEBASAN ESENSIAL
[/B]Salah satu nilai esensial dalam praktek pembebasan, adalah pembebasan dari perbudakan segala hal selain Allah swt. Dalam sebuah ayat Surat Al-Fatihah “IyyaKa Na’budu wa-IyyaKa Nasta’iin” (Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan).

Kata “Na’budu” (Kami menyembah), bukan A’budu (saya menyembah) sudah menunjukkan bahwa wujud kehambaan kita, adalah totalitas diri kita, lahir, batin, rahasia batin dengan seluruh elemennya yang dimunculkan dengan kata “kami”.

Statemen final dari kehambaan kita dalam IyyaKa Na’budu, sebagai pengabaian atas segala perbudakan selain kepada Allah Swt, yang kelak dalam dunia Tasawuf sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandary, ”Mathlabul ‘Arifin,  ash-Shidqu fil-‘Ubudiyah wa-Iqomatu Huquq ar- Rububiyyah” (yang dicari oleh para arifun adalah benar dalam menjalankan kehambaan dan menegakkan Hak-hak Ketuhanan).

Karena itu, posisi “wa-IyyaKa Nasta’in” (hanya kepadaMu kami memohon pertolongan) adalah manifestasi dari wujud penegakan Hak-Hak Ketuhanan dalam kepribadian sang hamba.

Dengan bahasa lain yang senada, Ibnu Athaillah as-Sakandary, menyebutkan dalam bahasa tugas, yaitu “Tahaqququl ‘Ubudiyah”  (mewujudkan kehambaan) dan “Ta’alluq bir-Rububiyah” (menggantungkan diri pada Sifat Ketuhanan), bukan mewujudkan Sifat Ketuhanan.

Sejumlah Sufi juga menegaskan:

IyyaKa Na’budu adalah kefanaan hamba, wa-IyyaKa Nasta’in adalah Baqo’Nya Allah swt.
IyyaKa Na’budu, adalah jika engkau tak mampu melihatNya maka Dialah yang Melihatmu, dan wa-IyyaKa Nasta’in  jika engkau menyembah seakan-akan engkau melihatNya.
IyyaKa Na’budu adalah Mi’raj, wa-IyyaKa Nasta’in adalah Rahmatan Lil-‘Alamiin.
IyyaKa Na’budu adalah ibadah dan ‘ubudiyah (hendaknya menyembah dan menuju) wa-IyyaKa Nasta’in adalah ‘abudah, hendaknya engkau Musyahadah dan Ma’rifah.
IyyaKa Na’budu adalah Taraqqy (menanjak ke Ilahi), dan wa-IyyaKa Nasta’in adalah Tanazzul (turun bersama Allah Azza wa-Jalaa).

Penafsiran ayat di atas tentu akan terus memanjang tiada akhir, karena sifat absolutnya Ketuhanan Allah Rabbul’ Izzah.

Namun, ada beberapa tonggak penyangga yang bisa mengokohkan kehambaan kita, agar pembebasan sejati maujud dalam kenyataan sehari-hari: Ada sepuluh penyangga ‘ubudiyah kita yang disebut oleh Ar-Rifa’I dalam Haalatu Ahlil Haqiqah ma’aLlah.

Pertama, Al-I’tisham Billah fii Kulli Syai’: Berkait pada Allah Swt dalam segala hal.
Kedua, Ar-Ridho ‘AniLlah fii Kulli Syai’: Ridho apa pun dari Allah dalam segala hal.
Ketiga,  Ar-Ruju’ IlaLlah fii Kulli Syai’: Kembali pada Allah dalam segala hal.
Keempat, Al-Faqru IlaLlah fii Kulli Syai’: Butuh pada Allah dalam segalanya.
Kelima, Al-Inabah IlaLlah fii Kulli Syai’: Kembalinya hati pada Allah dalam segala hal.
Keenam, Ash-Sahbru ma’aLlah fii Kulli Syai’: Sabar bersama Allah swt dalam segala hal.
Ketujuah, Al-Iqitha’ IlalLah fii Kulli Syai’: Memutuskan diri, jiwa hanya untuk Allah dalam segala hal.
Kedelapan, Al-Istiqomah BiLlah fii Kulli Syai’: Istiqomah bersama Allah dalam segala hal.
Kesembilan, At-Tafwidh IlaLlah fi Kulli Syai’: Menyerahkan urusannya kepada Allah dalam segala hal.
Kesepuluh, At-Tasliim Lillah fii Kulli Syai’: Menyerahkan total dirinya pada Allah dalam segala hal.

Kesepuluh penyangga ‘Ubudiyah inilah yang kemudian bisa dissimpulkan dalam pandangan Ibnu Athaillah as-Sakandary, pada hikmah utama beliau “I’timad BiLllah” (Mengandalkan Allah Ta’ala).

[B]CAHAYA PEMBEBASAN
[/B]Apa yang muncul dalam kehidupan sehari-hari adalah bagian dari siklus kemakhlukan dan semesta ini. Proses-proses hubungan manusia dengan Allah Ta’ala, dirinya dan alam semesta,  jika tidak dipancari Cahaya Allah Swt, akan memperpuruk kegelapan kita, akibat Hijab (tirai) yang menabiri kita dengan Allah Swt. (Walaupun hakikatnya tirai itu tidak ada,  namun imajinasi dan nafsu kita yang menciptakan tirai itu seakan-akan ada).

Tanpa Pencahayaan Ilahi, proses pembebasan hanyalah khayalan tentang pembebasan itu sendiri. Disinilah perlunya Pendidikan Ruhani (Tarbiyah Ruhiyyah) yang dibangun melalui Thariqat Sufi, dengan cara dan metode yang yang sangat khas, agar proses pembebasan dari belenggu semesta terwujudkan, dan sukses dalam wushul (sampai) pada Allah Azza wa-Jalla.

Karena itu para Ulama Sufi juga membangun paradigma dan sistematika pendidikan ruhani ini, agar memudahkan proses-proses tercapainya keutuhan Islam, Iman dan Ihsan. Imam Al-Ghazaly membangun sistematika yang cukup bagus dalam Al-Ihya’ maupun dalam  Kitab al-Arba’in fi Ushuliddin, dengan membagi 40 wacana pendidikian spiritual yang sederhana dan luar biasa.

Al-Ghazali misalnya membuat silabus yang cukup bagus dengan 40 prinsip utama:

Sepuluh prinsip pertama:  Ilmu dan Akidah: tentang Dzat Allah Swt; Taqdis Allah Swt; Qudrat; Ilmu; Iradat; Sama’ dan Bashar; Kalam; Af’al; Yaumul Akhir; dan Kenabian.

Sepuluh prinsip kedua: Amal-amal Lahiriyah: Shalat; Zakat dan Sedekah; Puasa; Haji; Membaca Al-Qur’an; Dzikrullah; Mencari Rizki yang Halal; Mememnuhi Hak Sesama Muslim dan Pergaulan Sosial; Amar Ma’ruf Nahi Mungkar; dan Mengikuti Jejak Nabi Saw.

Sepuluh Prinsip ketiga: Penyucian Hati dari Akhlaq Tercela: Makan rakus; Bicara Kotor; Amarah; Kedengkian; Bakhil dan Cinta Harta; Ambisi dan Gila Tahta; Cinta Dunia; Takabur; Takjub Diri; dan Riya’.

Sepuluh Prinsip keempat: Tobat; Khauf; Zuhud; Sabar; Syukur; Ikhlas dan Jujur; Tawakkal; Cinta; Ridho terhadap Qodho’; Mengingat Mati dan Hakikat Mati serga Ragam Siksa Ruhani.

Pada prinsipnya, menurut para Sufi, hakikat siksaan adalah Hijab itu sendiri.  Karena itu dalam, simpul kali ini kami sampaikan ungkapan hikmah Ibnu Athaillah as-Sakandary:

”Semesta secara total adalah gelap gulita.Yang meneranginya adalah tampilnya Allah Swt dibalik alam ini. Siapa yang memandang alam semesta (lahir maupun batin, langit maupun bumi, dunia maupun akhirat, pent) namun tidak menyaksikan Allah Swt  di baliknya, atau di sisisnya, atau sebelumnya atau sesudahnya, maka ia benar-benar kabur dari wujud cahaya-cahaya, dan terhijab dari matahari ma’rifat olerh mendung-mendung semesta.”



KHM LUQMAN HAKIM, MA.

Minggu, 22 April 2012

Adab Berdzikir - 2

Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani

Mereka juga sepakat, bahwa wajib bagi seorang murid untuk berdzikir dengan keras sekuat mungkin. Sebab dzikir secara pelan (sirri) dan lemah lembut tidak akan memberi manfaat kepada sang murid untuk bisa naik ke tingkatan yang lebih tinggi.

Mereka mengatakan: Wajib bagi seorang murid dalam menempuh cara yang lebih cepat terbuka mata hatinya, hendaknya bacaan La Ilaha IllaLlah naik dari atas pusar, kemudian menuju ke nafsu yang terletak di antara dua lambung, kemudian menyambungkannya dengan hati (jantung) yang ada di antara tulang dada dan pencernaan, dan menolehkan kepalanya ke arah kiri dengan disertai kehadiran hati yang maknawi di dalamnya.

Mereka mengatakan: Keras dalam berdzikir hendaknya dengan cara yang lembut, karena dikhawatirkan terjadi keretakan dalam perut dan semakin membengkak, sehingga mengakibatkan tidak bisa berdzikir dengan keras sama sekali.

Orang yang berdzikir hendaknya berhati-hati dalam melafalkan kalimat Tauhidy La Ilaha IllaLlah ini, jangan sampai terjadi salah ucap. Karena kalimat ini bersumber dari al-Qur’an. Maka harakat Lam yang ada pada La Nafi dibaca panjang secukupnya, Hamzah yang ber-kasrah dibaca dengan jelas tanpa dipanjangkan sama sekali, kemudian Lam setelahnya pada lafal Ilah dibaca panjang dengan mad thabi’i, dan Ha’ yang jatuh setelahnya dibaca fathah tanpa dibaca panjang. Kemudian Hamzah yang ada pada istisna’ di-kasrah dengan dibaca ringan tanpa dipanjangkan, dan Lam Alif setelahnya juga tidak dipanjangkan. Dan lafal Jalalah (Allah) Lam-nya dipanjangkan dan berhenti pada Ha’ dengan di-sukun bila di-waqaf-kan. Demikian pula hendaknya tidak memanjangkan huruf Ha’ dari lafal Ilah, yang akibatnya mengubah bacaan al-Qur’an. Demikian pula mengucapkan huruf Ha’ pada lafal Jalalah (Allah) hendaknya tidak dibaca panjang, yang akan memunculkan huruf wawu.

Tuan Guru Ali bin Maimun, guru dari Tuan Guru Muhammad bin Iraq mengatakan: “Kesalahan baca ini telah dilakukan oleh kaum fakir (sufi) non-Arab dan Romawi. Sementara mengikuti sunah Muhammad Saw. dan ulama salaf adalah yang diharuskan.”

Tuan Guru Yusuf al-‘Ajami mengatakan: Adab dzikir yang telah mereka sebutkan adalah untuk orang yang berdzikir secara sadar. Sedangkan orang yang berdzikir di luar kontrol kesadaran maka dzikirnya bersamaan dengan warid (rahasia-rahasia yang datang ke dalam hatinya), sehingga kadang-kadang lidahnya berucap lafal:

Allah atau Huwa atau La atau Ah atau Aa atau Aa atau suara tanpa huruf atau ngawur. Maka adabnya dalam kondisi di luar kontrol kesadaran ini adalah pasrah terhadap warid yang datang. Apabila warid itu habis maka adabnya adalah diam tanpa berbicara apa pun.

Adab-adab sebagaimana tersebut di atas harus dilakukan oleh orang yang berdzikir dengan lisan. Sementara orang yang berdzikir dengan hati maka adab-adab tersebut tidak harus dilakukan.

Adapun tiga poin adab yang dilakukan setelah berdzikir adalah sebagai berikut:

Diam tanpa bicara setelah ia tenang, khusyu’ dengan hati yang hadir, memperhatikan warid dzikir yang mungkin datang sehingga pada saat itu warid yang memenuhi wujudnya lebih banyak daripada apa yang dipenuhi oleh mujahadat (perjuangan spiritual) riyadhat (latihan spiritual) selama tiga puluh tahun. Barangkali yang datang adalah warid zuhud, sehingga ia menjadi orang yang zuhud, atau warid mampu memikul beban disakiti orang lain sehingga menjadi penyabar, atau warid takut kepada Allah sehingga menjadi orang yang takut kepada-Nya, demikian seterusnya.

Imam al-Ghazali mengatakan: Pada saat diam tanpa bicara ini memiliki beberapa adab, antara lain: Pertama, seorang hamba menghadirkan hatinya, sehingga ia merasa bahwa Allah senantiasa melihatnya dan ia sedang berada di depan-Nya; Kedua, memusatkan semua inderawi sekiranya tidak ada satu bulu rambut pun yang bergerak, seperti kondisi seekor kucing yang mau menerkam seekor tikus; Ketiga, menghilangkan semua bisikan diri dan mengalirkan makna Allah, Allah pada hati.” Kemudian al-Ghazali mengatakan: “Seorang yang berdzikir tidak akan membuahkan muraqabah (perasaan selalu diawasi oleh Allah) kecuali disertai dengan adab-adab tersebut.”

Hendaknya mencela dirinya kira-kira tiga sampai tujuh pernafasan atau lebih, sampai seluruh warid yang ada bisa beredar ke seluruh alam dirinya, sehingga mata hatinya bisa bersinar, bisikan-bisikan diri dan setannya bisa terputus darinya, dan semua hijab bisa tersingkap. Ini semua wajib dilakukan menurut istilah mereka.

Tidak diperkenankan minum air dingin setelah berdzikir. Sebab dzikir bisa mengakibatkan terbakar, gejolak, dan kerinduan yang membara kepada Yang selalu disebut dan diingat (Allah), yang merupakan tujuan terbesar yang ingin dicapai dari dzikir. Sementara minum air bisa memadamkan panasnya gejolak dan membaranya kerinduan tersebut. Maka seorang yang berdzikir hendaknya selalu memperhatikan dan berusaha melakukan tiga adab ini. Karena buah dari berdzikir akan tampak dengan tiga adab ini. Dan hanya Allah Yang Mahatahu.

Buah dan Talqin Dzikir Secara Umum
Perlu anda ketahui, bahwa talqin dzikir memiliki buah secara umum dan juga buah secara khusus. Sedangkan dari masing-masing buah terdapat tokohnya sendiri-sendiri.

Maka buah yang bersifat umum, setelah seseorang di-talqin dzikir, maka ia akan menjadi bagian dari suatu lingkaran, seakan-akan menjadi rangkaian dari lingkaran rantai besi. Apabila ia bergerak karena ada suatu masalah, maka bagian dari rangkaian yang lain juga ikut bergerak. Sebab antara masing-masing orang yang diberi mandat mulai dari Rasulullah Saw hingga orang yang bersangkutan merupakan satu rangkaian dari silsilah. Ini berbeda dengan orang yang tidak mendapatkan talqin (bimbingan) dzikir secara lisan dari para guru, maka ia seperti bagian dari rangkaian yang terpisah. Apabila ia bergerak karena ada satu masalah yang menjadi beban, maka tidak ada seorang pun yang bergerak untuk membantunya, karena tidak ada hubungan antara dia dengan yang lain.

Saya pernah mendengar Tuan Guru Ali al-Murshifi berkata: Talqin (bimbingan dzikir secara lisan) seorang guru kepada murid ibarat sebutir benih yang ditanam di tanah gersang, yang pengairannya hanya bergantung dengan turunnya hujan. Maka hasil produksi, perkembangan, dan berseminya daun sangat bergantung pada kesanggupannya menyerap air dalam kadar banyak atau tidaknya sesuai dengan pengairan yang ada, dan bukan bergantung pada seorang guru yang menanam benih. Seorang guru hanya memiliki benih yang siap ditanam, sedangkan yang berhak menumbuhkan adalah al-Haq Swt.

Bisa jadi seorang guru menanamkan benih pada bumi seorang murid, lalu ia tumbuh tapi kemudian mati. Maka buah yang bisa dituai bisajadi nanti di tangan seorang guru lain setelahnya. Ini bisa jadi karena lemahnya semangat sang murid atau karena makna-makna dzikir tidak mampu menguasai dan mempengaruhi hati dan lisannya secara terus-menerus. Kaum sufi mengatakan: Sesungguhnya pengaruh dzikir setelah di-talqin seperti pengaruh hujan terhadap benih setelah ditanam. Karena hal itu pula yang bakal mempengaruhi terbukanya mata hati dan hasil produksi.

Maka bisa dimengerti, bahwa seorang murid setelah di-talqin tidak cukup hanya menghadiri majelis dzikir bersama kaum sufi yang lain di pagi dan sore hari, sebagaimana yang terjadi pada kebanyakan murid di zaman ini. Sebab buah dari dzikir seperti itu hanya seperti orang yang meneteskan setetes air pada benih yang ditanam di saat pagi hari dan setetes air lagi di sore hari. Sementara angin dan terik matahari dalam rentang waktu pagi hingga sore sudah menghabiskan tetesan air tersebut. Hal itu tidak akan bisa membasahi bumi yang ditanami benih, bahkan bisa jadi tetesan air itu tidak bisa sampai ke benih, sehingga benih ini butuh waktu lama untuk bisa terbuka. Dan bisa jadi ia sudah mati dan belum ada tanda-tanda untuk terbuka.

Barangkali murid seperti ini hanya akan bisa menyalahkan guru yang men-talqin-nya, kemudian ia mengatakan, “Sebenarnya saya tidak perlu bimbingan dan talqin dari guru ini, karena tidak ada hasil dan manfaatnya bagi diri saya.” Ia tidak paham, bahwa tugas seorang guru hanyalah menanam benih di bumi si murid. Sementara tugas seorang murid adalah memperbanyak dzikir dan berperilaku dengan perbuatan-perbuatan yang diridhai. Kemudian kalau terbukanya si murid ini terlalu lamban, maka hal itu kembali kepada Allah, dan bukan dialamatkan kepada sang guru. Maka murid yang semangatnya sangat kendor ini ibarat kapas yang digunakan untuk menyulut bunga api pada korek. Apabila kapas itu kering maka percikan bunga api akan segera menyala, tapi kalau kapas itu basah maka seluruh percikan bunga api akan padam. Maka pahamilah!

Kalau seorang murid telah mendapatkan bimbingan dan talqin dzikir dari seorang guru, kemudian ia berbuat maksiat atau berperilaku yang menyalahi kesopanan (adab), maka ia wajib mengulangi pen-talqin-an, agar setan yang ada di dalam dirinya bisa keluar dari sarangnya. Sebab talqin dzikir adalah sarana untuk mengusir setan, sedangkan berperilaku yang menyalahi kesopanan dapat memasukkan setan ke dalam dirinya.

Kami pernah mendengar Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi berkata: “Apabila seorang murid telah mendapatkan talqin, kemudian ia melakukan tindakan yang menyalahi kesopanan, maka ia ibarat sebutir benih yang dimakan ulat, lalu membusuk dan berubah wujud. Setelah itu tidak ada harapan untuk bisa tumbuh dan bersemi, apalagi menghasilkan buah. Akan tetapi benih yang ditanam sang guru tersebut akan rusak secara total.”

Kasus seperti ini banyak dialami oleh para murid di zaman sekarang ini. Tak seorang pun dari mereka yang berusaha memperbarui talqin kepada sang guru. Akhirnya mereka tidak mendapatkan manfaat apa-apa, dan hanya menjadi tubuh yang tak bernyawa, ibarat sebatang kayu yang disandarkan. Maka tidak ada upaya dan kekuatan apa pun selain dengan Allah Yang Maha Agung.



Buah dari Talqin Secara Khusus

Talqin secara khusus adalah talqin suluk (perilaku menempuh Jalan Allah) setelah ia masuk ke dalam lingkaran (anggota) kaum sufi, dimana gambarannya adalah sebagai berikut:

Seorang guru tarekat akan bermunajat dan menghadap kepada Allah Swt. kemudian ketika ia berkata kepada sang murid: “Ucapkan kalimat: Laa ilaa ha illallahu“ maka ia mencurahkan kepada sang murid seluruh ilmu syariat suci yang telah menjadi bagiannya. Setelah sang murid ini mendapatkan talqin, ia tidak perlu lagi menelaah kitab-kitab syariat sampai ia mati.

Syekh Abu al-Qasim al-Junaid —rahimahullah— berkata: “Ketika guruku, Syekh Sari as-Saqathi men-talqin-ku maka beliau mencurahkan seluruh ilmu syariat yang ia miliki kepadaku.”

Al-Junaid juga berkata: “Tidak ada ilmu yang turun dari langit dan Allah menjadikan jalan untuk makhluk menuju ke sana, kecuali Allah juga akan memberiku bagian tertentu untuknya.” Ia juga pernah berkata: “Orang yang hendak menjadi pemimpin dalam pengambilan janji (sumpah), membimbing dzikir (talqin) dan menunjukkan jalan para murid dibutuhkan orang yang benar-benar mendalami ilmu syariat. Sebab setiap gerak-geriknya akan menjadi pertimbangan secara hukum (syariat).”

Kalau di saat ini ada orang yang mengklaim dirinya telah menjadi guru tarekat (sufi) dan kemudian mengatakan, bahwa hal ini tidakmenjadi syarat dalam melakukan talqin dan bimbingan kepada para murid, ini hanya karena ia tidak sanggup melakukannya. Kalau ada guru tarekat seperti ini maka kita bisa mengatakan kepadanya, “Ini berarti anda telah mengatakan, bahwa para guru tarekat salaf adalah orang-orang bodoh.” Ini banyak terjadi pada orang-orang yang telah mendirikan perguruan tarekat dengan cara yang tidak benar. Sehingga ia mengatakan tentang setiap syarat yang ia lihat pada setiap tingkatan spiritual (maqamat) bukanlah termasuk syarat menjadi guru tarekat yang hendak men-talqin dan membimbing para murid. Hal ini ia katakan demikian, karena ia takut aibnya terbuka di masyarakat. Andaikan ia orang yang berakhlak mulia dan memiliki kesopanan tentu ia akan berkata, “Hal ini aku tidak sanggup melakukannya.” Kemudian ia meminta kepada guru lain yang bisa mengantarkannya, sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang jujur.

Manfaat Dzikir dan Cara Melakukannya

Perlu anda ketahui, bahwa manfaat dzikir tidak bisa dihitung jumlahnya. Sebab orang yang berdzikir akan menjadi “teman dekat” Allah, yang tidak ada lagi perantara antara dia dengan Allah Swt. Maka tidak ada seorang pun yang tahu, berapa banyak apa yang dipilihkan Allah untuknya dari berbagai ilmu dan rahasia ketika ia sedang berdzikir. Karena ini merupakan hadirat yang tidak seorang pun bisa mendatangi dan memisahkannya tanpa pertolongan Allah Swt.

Maka bisa ditanyakan kepada orang yang mengaku, bahwa saat berdzikir ia bisa hadir dengan sepenuh hati ke hadirat Allah Swt.:

“Apa yang dipilihkan dan diberikan kepada anda di majelis ini?” Kalau ia menjawab, “Kami tidak diberi apa-apa?” Maka kita bisa mengatakan kepadanya, “Anda adalah orang lain yang tidak mau menghadirkan sesuatu, maka ambil dan jadikan sesuatu (yakni guru) yang bisa menghilangkan berbagai kendala dan halangan dari diri anda untuk bisa hadir dengan sepenuh hati.” Kalau ia belum juga mengambil dan menjadikan seorang guru, maka kita bisa mengatakan kepadanya, “Maka perbanyaklah dzikir sekalipun tidak bisa hadir sepenuh hati.” Demikianlah sebagaimana yang dikatakan oleh penulis Kitab al-Hikam, Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandary, “Janganlah anda meninggalkan dzikir hanya karena anda tidak bisa hadir sepenuh hati dengan Allah. Sebab lupa Allah dengan tidak berdzikir itu lebih parah daripada lupa anda dengan Allah ketika sedang berdzikir.” Semoga Allah meningkatkan anda dari dzikir yang disertai dengan kelengahan hati menuju dzikir yang disertai dengan kesadaran hati, dan kemudian meningkat menjadi dzikir yang disertai dengan kehadiran hati, dan dari dzikir yang disertai kehadiran hati menuju dzikir disertai dengan hilangnya segala sesuatu selain Yang diingat (yakni al-Madzkur, Allah). Dan hal itu bukanlah hal yang berat bagi Allah.

Kaum sufi telah sepakat, bahwa dzikir merupakan kunci segala kegaiban, menarik kebaikan, penghibur orang yang sedang gelisah, dan mandat kewalian. Maka tidak sepantasnya seseorang meninggalkan dzikir sekalipun dengan hati yang lengah. Andaikan bukan karena mulianya dzikir tentu saja kegiatan yang tidak dibatasi oleh waktu, kondisi dan tempat tertentu ini sudah cukup sebagai isyarat kemuliaannya.

Allah Swt berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang mengingat (berdzikir) kepada Allah, baik dengan berdiri, duduk maupun sambil berbaring ...“ (Q.S. Ali Imran: 191)

Kaum sufi mengatakan: Tidak ada yang lebih cepat untuk membuka pintu rahmat Allah daripada dzikir. Dimana ia merupakan penyatu dari berbagai kesemerawutan hati orang yang bersangkutan. Apabila dzikir telah menguasai orang yang berdzikir, maka NamaYang diingat akan bercampur dengan ruh orang yang berdzikir, sehingga pernah terjadi pada sebagian orang yang berdzikir, kepalanya terbentur oleh batu, lalu darah yang menetes ke tanah mengukir lafal Allah, Allah.

Perlu anda ketahui wahai saudaraku, bahwa tidak akan bisa merasakan kedamaian dengan berdzikir kecuali orang yang bisa merasakan kegelisahan akibat lupa Allah. Sementara orang yang sudah terlalu hanyut tidak akan menemukan kedamaian dan kegelisahan. Ia tidak takut binatang buas maupun ular.

Setelah kami sebutkan sekilas tentang manfaat dzikir, maka berikut akan kami sebutkan tentang keutamaan dzikir yang disebutkan pada beberapa Hadis Nabi Saw. Sebab semangat hati akan menjadi kuat dengan melihat beberapa kelebihan dan keutamaan yang disebutkan pada dalil. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Muslim dan para ahli hadis yang lain dengan Hadis Marfu’: “Bolehkah aku memberi tahu kalian tentang amal kalian yang terbaik, yang paling bersih di sisi Tuhan Sang Raja, paling tinggi derajatnya, lebih baik bagi kalian daripada kalian menginfakkan emas dan uang, dan lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu musuh lalu kalian mampu memenggal leher mereka dan mereka juga memenggal leher kalian?” Para sahabat menjawab, “Tentu! Ya Rasulullah.” Maka Rasulullah memberi jawaban: “Yaitu dzikir kepada Allah.”

Imam al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dengan Hadis Marfu’ yang panjang, berikut hanya sebagian dari potongan Hadis tersebut: “Allah Swt. berfirman: ‘Aku berada pada dugaan hambaKu terhadap Diri-Ku, dan Aku selalu bersamanya ketika ia mengingat-Ku’.”

 Dalam riwayat lain disebutkan: “Aku bersama hamba-Ku ketika ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya selalu bergerak karena-Ku.”

 Mu’adz bin jabal r.a. berkata: Terakhir kali ucapan yang pernah kudengar dari Rasulullah, kemudian tidak lama beliau wafat dimana aku sempat bertanya kepada beliau, “Amal apa yang paling disenangi oleh Allah Swt.?” Maka beliau menjawab, “Engkau mati, sementara lisanmu masih basah untuk mengingat Allah.”

Dalam Kitab Sahih disebutkan dengan Hadis Marfu’: “Sesungguhnya segala sesuatu ada alat untuk menggosok hingga mengkilap, dan sesungguhnya alat untuk memengkilapkan hati adalah berdzikir kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu yang lebih bisa menyelamatkan diri dari siksa Allah daripada berdzikir kepada Allah. ” Kemudian para sahabat bertanya, “Bukankah berjihad demi membela agama Allah?” Beliau menjawab, “Dan tidak pula ia mampu memenggal leher musuh dengan pedang hingga terputus.”

Sementara itu Ibnu Hibban meriwayatkan dalam Kitab Sahihnya, dengan Hadis Marfu’: “Sungguh ada suatu kaum di dunia yang masih berdzikir kepada Allah di atas tempat tidurnya yang terbentang, maka Allah akan memasukkan mereka ke tingkatan-tingkatan tertinggi.”

Imam al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dengan Hadis Marfu’: “Perumpamaan orang yang selalu berdzikir (mengingat) Tuhannya dengan orang yang tidak pernah mengingat Tuhannya adalah seperti orang hidup dengan orang mati.”

Imam Ahmad dan ath-Thabrani meriwayatkan: Bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw., “Wahai Rasulullah, siapa orang yang berjihad demi agama Allah yang paling besar pahalanya?” Maka Rasulullah menjawab, “Mereka yang paling banyak mengingat Allah, kemudian mengingat shalat, zakat, haji, dan sedekah.” Sementara itu Rasulullah hanya mengatakan, “Mereka yang paling banyak mengingat Allah.” Lalu Abu Bakar berkata kepada Umar, “Wahai Abu Hafsh, orang-orang yang selalu mengingat Allah pergi dengan membawa seluruh kebaikan. ” Kemudian Rasulullah menimpali, “Ya, tentu saja.”

Ath-Thabrani meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak ada yang disesali oleh penghuni surga kecuali saat-saat yang telah berlalu dimana mereka tidak mengingat Allah Swt.”

Ath-Thabrani juga meriwayatkan dengan Hadis Marfu’: “Barangsiapa tidak mengingat Allah maka ia benar-benar bebas dari iman.”

Syekh Abu al-Mawahib berkata, “Barangsiapa melupakan Allah maka ia benar-benar telah kufur.”

Dalam sebuah Hadis Qudsi disebutkan: “Allah Azza wa Jalla berfirman: Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya jika kamu mengingat-Ku berarti kamu telah bersyukur kepada-Ku, dan jika kamu melupakan-Ku berarti kamu telah kufur kepada-Ku.”

Lupa di sini secara mutlak, baik lupa akibat kelengahan yang terjadi karena kebodohan tentang Allah sehingga ia menyekutukan-Nya, atau lupa karena lengah dan berpaling dan al-Haq, sementara cara yang ditempuh adalah tercela.

Kalau ada pertanyaan, “Mana yang paling bermanfaat antara dzikir sendirian dengan dzikir secara berjamaah?” Maka jawabannya bisa berbeda-beda: Dzikir sendirian tentu lebih bermanfaat bagi orang-orang yang mampu mengasingkan diri dan makhluk (khalwat). Begitu sebaliknya, dzikir secara berjamaah akan lebih bermanfaat bagi mereka yang tidak bisa mengasingkan diri dari makhluk.

Jika anda bertanya: Mana yang paling bermanfaat antara dzikir secara pelan-pelan (sirri) dengan dzikir secara keras? Maka jawabannya adalah, bahwa dzikir secara keras akan lebih bermanfaat bagi para pemula yang hatinya masih belum lunak. Sedangkan dzikir secara sirri akan lebih bermanfaat bagi mereka yang telah suluk dan dikuasai oleh kebersamaan (dengan Allah).

Jika anda bertanya: Apakah perkumpulan untuk berdzikir itu lebih baik ataukah justru tindakan bid’ah sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang? Maka kami jawab: Perkumpulan tersebut justru dianjurkan dan disenangi oleh Allah dan Rasul-Nya. Lalu ibadah apa yang lebih baik dari ibadah suatu kaum yang berkumpul untuk berdzikir kepada Allah, dan dengan dzikir mereka bermunajat kepada-Nya? Jika anda bertanya: Apa argumentasi yang menguatkan, bahwa perkumpulan untuk berdzikir bersama itu lebih baik? Maka kami jawab: Dalil yang menguatkan hal itu adalah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan at-Tirmidzi dengan Hadis Marfu’: “Setiap kali suatu kaum duduk bersama untuk berdzikir kepada Allah, tentu akan ada malaikat yang mengepungnya, diliputi oleh rahmat dan diturunkan suatu ketenangan, dan Allah akan menuturkan mereka kepada makhluk yang ada di sisi-Nya.”

Imam al-Bukhari juga meriwayatkan dengan Hadis Marfu’: “Sesungguhnya Allah Swt. memiliki para malaikat yang selalu berkeliling untuk mencari orang-orang yang biasa berdzikir. Apabila mereka menemukan suatu kaum yang berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, mereka akan saling memanggil: “Kemarilah pada apa yang kalian perlukan.” Rasulullah melanjutkan kisahnya: ‘Akhirnya mereka mengepung kaum tersebut dengan sayap-sayap mereka mengarah ke langit dunia.’”

Imam Ahmad meriwayatkan Hadits dan Rasulullah dengan sanad yang baik: “Setiap kali ada suatu kaum yang berkumpul untuk berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, dimana mereka hanya mengharapkan ridha-Nya, tentu akan ada yang memanggil dari langit: Hendaknya kalian bangkit dengan terampuni dosa-dosa kalian. Sungguh kejelekan kalian telah diganti dengan kebaikan.”

Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan sebuah Hadis Marfu’ dengan sanad yang baik dan yang searti dengan Hadits di atas: “Setiap kali ada suatu kaum yang berkumpul untuk berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, dimana mereka hanya mengharapkan ridhaNya, tentu akan ada yang memanggil dari langit: Jika kalian lewat di pertamanan surga maka merumputlah!” Kemudian para sahabat bertanya: “Apa yang dimaksud pertamanan surga wahai Rasulullah?” Rasulullah Saw. menjawab: “Yaitu lingkaran manusia ketika sedang berdzikir.”

Ibnu Hibban meriwayatkan Hadis Marfu’ dalam Kitab Sahihnya: ‘Allah Swt. berfirman: Bakal diketahui Ahlul Jam’i (orang-orang yang biasa berkumpul) dengan Ahlul Karam (mereka yang dermawan). Kemudian Rasulullah ditanya, Siapa Ahlul Karam itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka orang-orang yang biasa berdzikir di mesjid-mesjid. Maka berdzikirlah kepada Allah sehingga orang-orang mengatakan, ‘Ia orang gila’.”

Abu Dawud meriwayatkan: “Sungguh aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah Swt. mulai dari shalat Subuh hingga terbit matahari, adalah lebih aku senangi daripada memerdekakan empat orang budak dari anak cucu Ismail. Dan sungguh aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah Swt. mulai dari shalat Asar hingga terbenam matahari, adalah lebih aku senangi daripada memerdekakan empat orang budak.”

Para ulama mengatakan: Rasulullah mengkhususkan anak cucu Nabi Ismail a.s., karena memerdekakan seorang budak dari keturunan Ismail a.s. nilainya sama dengan memerdekakan dua belas orang budak selain keturunan Ismail.

Imam Alimad meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash yang mengatakan: Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Apa keuntungan dari majelis-majelis dzikir?” Beliau menjawab, “Keuntungan dari majelis dzikir adalah surga.”

Syekh Izzuddin bin Abdussalam mengatakan: Hadits ini dan yang semisal disamakan dengan tingkatan perintah. Sebab setiap perbuatan yang dipuji oleh Sang Pembuat syariat atau pelakunya dipuji karena perbuatan tersebut atau dijanjikan dengan kebaikan, baik sekarang maupun yang akan datang, maka perbuatan tersebut diperintahkan. Hanya saja perintah ini ada pilihan antara wajib dan sunah (dianjurkan).  Sementara Hadis-hadis yang menerangkan hal ini cukup banyak.

Para ulama, baik salaf maupun khalaf telah bersepakat dalam menganjurkan dzikir kepada Allah Swt. secara berjamaah, baik di mesjid maupun di tempat-tempat yang lain. Kesepakatan ini tidak ada seorang pun dari mereka yang menentangnya. Kecuali bila kegiatan dzikir mereka bisa mengganggu ketenangan orang yang sedang tidur atau orang yang sedang shalat atau membaca al-Qur’an dan lain-lain, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam kitab-kitab fikih.

Imam al-Ghazali menyamakan dzikir seorang diri dan dzikir secara berjamaah dengan adzan sendirian dan adzan secara bersama, dimana ia mengatakan: “Sebagaimana suara orang-orang yang berazan secara bersama akan lebih menggema di angkasa daripada suara adzan sendirian. Maka berdzikir secara berjamaah dengan satu hati tentu lebih berpengaruh dalam menghilangkan hijab (tabir) daripada berdzikir seorang diri.”

Adapun masalah pahala yang mereka dapatkan ketika sedang berdzikir secara berjamaah, maka masing-masing orang akan mendapatkan pahala dan dzikirnya dan pahala dan mendengar dzikir temannya.

Sementara alasan yang menguatkan tentang dzikir dengan berjamaah akan lebih berpengaruh dalam menghilangkan hijab, adalah karena al-Haq Swt. telah menyamakan hati dengan batu yang keras. Sebagaimana yang kita maklumi, bahwa batu besar sulit dipecahkan kecuali dengan kekuatan bersama yang berpadu dalam satu hati. Sebab kekuatan bersama akan lebih dahsyat daripada kekuatan seorang diri. Oleh karenanya, mereka menyanatkan dalam berdzikir harus dengan kekuatan yang optimal. Mereka berargumentasi dengan firman Allah Swt., “Kemudian setelah itu hati meneka mengeras bagaikan batu, atau justru lebih keras daripada batu, (Q.S. al-Baqarah: 74). Sebagaimana batu tidak bisa dipatahkan kecuali dengan kekuatan yang dahsyat. Maka demikian pula dzikir tidak mampu mengumpulkan kesemerawutan hati yang bersangkutan kecuali dengan kekuatan yang optimal.

Kalau ada pertanyaan: Dzikir manakah yang terbaik antara La Ilaha IllaLlah atau ditambah dengan : “MuhammadurRasulullah” (Muhammad Utusan Allah)? Maka jawabannya:

Dzikir yang terbaik bagi orang-orang yang menempuh jalan Allah (para salik) adalah La Ilaha IllaLlah tanpa ditambah dengan “Muhammadun-Rasulullah“, sampai berhasil adanya kebersamaan dengan Allah Swt. di dalam hatinya. Ketika kebersamaan ini telah terjadi pada hati seseorang maka dzikir yang terbaik ditambah dengan Muhammadun-Rasulullah. Sebab dzikir Muhammad Rasulullah adalah sebuah pengakuan (ikrar), sedangkan pengakuan bisa hanya sekali dalam seumur hidup. Dan tujuan mengulangulang kalimat Tauhid “La Ilaha IllaLlah” adalah memperbanyak penyingkapan terhadap hijab-hijab nafsu, disamping juga mengucapkan kalimat Tauhid “La Ilaha IllaLlah” benanti menunaikan perintah Rasulullah yang pernah mengatakan: “Ucapkan kalimat, ‘La Ilaha IllaLlah,’” ini berarti sekaligus menetapkan dan mengakui tentang kerasulannya. Oleh karenanya, dalam sebagian riwayat hanya menyebutkan dengan kalimat “La Ilaha IllaLlah” dimana Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan kalimat: ‘La Ilaha IllaLlah (tiada Tuhan yang haq selain Allah).’ Apabila mereka telah mengucapkannya, berarti mereka benar-benar telah melindungi darah dan harta mereka dariku, kecuali yang menjadi hak Islam dan perhitungannya kepada Allah.”

Dalam riwayat ini Rasulullah tidak mengatakan: “Muhammadur-Rasulullah (Muhammad Utusan Allah.)” Sebab kesaksian ini juga mengandung kesaksian akan kerasulannya.

Kalau ada pertanyaan: Mana yang terbaik antara dzikir dengan membaca al-Qur’an, dimana membaca al-Qur’an merupakan dua kegiatan ritual sekaligus, yakni membaca dan juga dzikir? Maka jawabannya: Dzikir adalah lebih baik bagi murid, dan membaca al-Qur’an lebih baik bagi orang yang sudah sempurna yang mampu mengetahui keagungan Allah Swt. Sementara yang kami maksud dzikir dan membaca al-Qur’an di sini tidak terikat dengan waktu. Akan tetapi kalau terikat dengan waktu dan kondisi maka dzikir akan lebih baik bila diletakkan pada posisinya dari membaca al-Qur’an, juga akan lebih baik bila diletakkan pada posisinya.

Syekh Izzuddin bin Abdussalam mengatakan: “Suatu ketika membaca al-Qur’an menjadi lebih utama daripada dzikir, dan suatu ketika berdzikir juga akan lebih utama daripada membaca al-Qur’an.” Ia melanjutkan: “Para ulama telah berbeda pendapat tentang mana yang terbaik antara ucapan seorang hamba: Allah, Allah, Allah ... ataukah “La Ilaha IllaLlah”? Maka sebagian kaum sufi berpendapat, bahwa berdzikir dengan lafal Jalalah (Allah, Allah, Allah ...) adalah lebih baik bagi para pemula. Sementara itu sebagian besar kaum sufi, para ahli hadis dan para ahli fikih telah berpendapat, bahwa berdzikir dengan kalimat Tauhid “La Ilaha IllaLlah” adalah lebih baik bagi para pemula dan orang-orang yang telah sampai pada tujuan. Dan ada pula sebagian kaum sufi yang berpendapat, bahwa kalimat Tauhid “La Ilaha IllaLlah” adalah dzikir bagi para pemula, sedangkan kalimat Allah, Allah, Allah adalah dzikir orang-orang yang telah mencapai tujuan. Masing-masing dari mereka yang berpendapat demikian memiliki argumentasi sendiri-sendiri.

Adapun sanad kaum sufi tentang mengenakan serpihan kain (khirqah) kepada murid adalah sebagaimana yang kami riwayatkan dan al-Hafizh Dhiya’uddin al-Maqdisi, al-Hafizh Ibnu Musdi, dan al-Hafizh Syekh Jalaluddin as-Suyuthi, bahwa Hasan al-Bashri dan Uwais al-Qarni mengenakan serpihan kain kepada sahabatnya. Sementara Hasan al-Bashri menceritakan, bahwa ia mengenakan serpihan kain dari tangan Ali bin Abu Thalib r.a., sedangkan Uwais al-Qarni memberitahukan bahwa ia mengenakannya dari tangan Umar bin Khaththab r.a. dan Ali bin Abu Thalib. Sedangkan kedua sahabat ini mengenakannya dari tangan Rasulullah Saw., dan Rasulullah sendiri dari tangan Jibril a.s. dengan perintah dari Allah Azza wa Jalla.

Perlu anda ketahui wahai saudaraku, bahwa sebagian ahli hadis tetap membantah kesahihan sanad mengenakan serpihan kain ini dari sisi persambungan sanadnya pada setiap generasi, sampai akhirnya muncul Syekh Jalaluddin as-Suyuthi yang kemudian menyatakan, bahwa sanad mengenakan serpihan kain ini sahih, yang jalur sanadnya mengikuti para huffazh hadis. Sedangkan Hasan al-Bashri sendiri sempat mendengar dan bertemu dengan Ali r.a. — sebagaimana yang telah kami jelaskan di muka dalam menjelaskan sanad talqin kaum sufi.

Syekh Muhyiddin Ibnu al-’Arabi pernah mengenakan serpihan kain ini kepada sang murid sembari mengatakan: “Ini aku lakukan hanya karena mengambil berkah dengan apa yang dilakukan para salaf Sedangkan aku sendiri tidak menemukan dalilnya.” Ia menyebutkan pada bab kedua puluh lima dan Kitab al-Futuhat, sebagai berikut: ‘Aku tidak bisa mengatakan tentang pendapat mengenakan serpihan kain yang dilakukan oleh kaum sufi. Aku mengetahui serpihan kain ini hanya sebatas untuk persahabatan dan adab, bukan yang lain. Oleh karenanya, mengenakan serpihan kain ini tidak ditemukan sanadnya bersambung dengan Rasulullah Saw. Akan tetapi ketika aku bertemu dengan Khidhir a.s. di Mekkah dan aku melihatnya mengenakan pakaian ini kepada para wali, maka sejak saat itu aku bisa mengatakan suatu pendapat tentang pakaian simbolis ini. Akhirnya aku mengenakannya dari tangan Khidhir yang waktu itu aku berada di sudut Hajar Aswad. Akhirnya setelah itu aku juga mengenakannya kepada para murid. Demikian pula dalam beberapa kesempatan lain aku pernah mengenakannya dari tangan Isa a.s.” Lebih lanjut ia mengatakan:

“Sedangkan rahasia dalam mengenakan pakaian simbolis ini, adalah ketika seorang guru ingin menyempurnakan tingkatan spiritual si fakir (murid), sedangkan sang guru dalam kondisi spiritual ekstase yang tak terkendalikan, maka ia akan mencabut pakaian yang sedang ia kenakan kemudian dikenakan pada sang murid yang ingin disempurnakan tingkatan spiritualnya. Akhirnya kondisi sang guru yang pada saat itu telah memuncak akan menular kepada sang murid. Akhirnya kondisi spiritual sang murid akan menjadi sempurna dalam akhlaknya.” Maka pakaian simbolis yang dikenal di kalangan kaum sufi ini ibarat sebuah mahkota dari seorang raja. Adapun orang yang mengenakannya tidak dalam kondisi spiritualnya memuncak maka ia hanya berusaha meniru dan mencari berkah dengan kaum sufi salaf dan bukan yang lain.

Jika sekarang anda telah tahu, maka aku ingin mengatakan — dan hanya Allah yang akan memberi pertolongan:

Syekh al-Mursi, Abu al-Abbas — rahimahumullah — mengatakan:

‘Wajib bagi seorang (guru) yang hendak mengenakan serpihan kain kepada para murid dengan cara suluk untuk menjelaskan orang-orang yang menjadi silsilah (sanad)nya. Sebab pada saat ini hal itu merupakan suatu riwayat. Sedangkan riwayat harus dijelaskan dan ditentukan orang-orang yang menjadi sanadnya. Sedangkan orang-orang yang melakukan hal itu karena jaddah Ilahiah (kondisi di luar kesadaran karena tertarik oleh magnet Ilahi), maka mereka tidak wajib menentukan sanad para guru ketika sedang mengenakan pakaian simbolis ini kepada para murid. Sebab hal itu merupakan hidayah (petunjuk) dari Allah Swt. dan membukakan mereka dari pancaran anugerah-Nya.”

Jika anda telah tahu, maka saya mengenakan serpihan kain ini dari tangan Tuan Guru Syekh Zakaria al-Anshari, yang dimakamkan lurus dengan wajah Imam asy-Syafi’i yang lurus dengan jendela Syekh Najmuddin al-Khusyani. Hal itu terjadi pada bulan Muharam 914 H. dimana beliau mengenakannya dari tangan Tuan Guru Syekh Muhammad al-Ghamari, dan al-Ghamari mengenakan dari tangan Syekh Ahmad az-Zahid, dan az-Zahid mengenakan dari tangan Syekh Hasan at-Tustari, dimana Hasan at-Tustari mengenakannya dari tangan Tuan Yusuf al-’Ajami, dan Yusuf al-’Ajami mengenakannya dari tangan Syekh Mahmud al-Ashfahani, dan al-Ashfahani mengenakannya dari tangan Syekh Abdush-Shamad an-Nathtari, dan an-Nathtari mengenakannya dari tangan Syekh Najibuddin Ali bin Burghusy, dan Najibuddin mengenakannya dari tangan Syekh Syihabuddin as-Suhrawardi, dan as-Suhrawardi mengenakannya dari tangan pamannya sendiri, Najib as-Suhrawardi, dimana Najib as-Suhrawardi mengenakannya dari pamannya, al-Qadhi Wajihuddin, dan Wajihuddin mengenakannya dari tangan ayahnya sendiri, Muhammad yang lebih terkenal dengan Amawaih, dan Amawaih mengenakannya dari tangan Syekh Ahmad ad-Dinawari, dan ad-Dinawari mengenakannya dari tanganAbu al-Qasim al-Junaid, dan al-Junaid mengenakannya dari tangan Abu Ja’far al-Haddad, dan al-Haddad mengenakannya dari tangan Abu Amr al-Ushthuhri, dimana al-Ushthuhri mengenakannya dari tangan Saqiq al-Balkhi, dan al-Balkhi mengenakannya dari Ibrahim bin Adham, dan Ibrahim bin Adham mengenakannya dari tangan Musa bin Yazid ar-Ra’i, dan ar-Ra’i mengenakannya dari tangan Uwais al-Qarni, dan Uwais al-Qarni mengenakannya dari tangan Umar bin Khaththab dan Ali bin Abu Thalib, ketika keduanya diperintah oleh Nabi Saw untuk bertemu dengannya.

Sementara itu Umar bin Khaththab r.a. dan Ali bin Abu Thalib mengenakannya dari tangan Rasulullah Saw, sedangkan Rasulullah Saw mengenakannya dari jibril a.s. dan jibril mengenakannya atas perintah Allah Azza wa Jalla. Ini sebagaimana yang saya lihat dalam Risalah Syekh Abdurrahman al-Qaushi, murid dari Abu Abdillah al-Qurasyi, dimana ia meriwayatkan dengan sanad yang sambung sampai dengan Rasulullah Saw, “Bahwa pada saat Isra’ Mi’raj Rasulullah Saw melihat sebuah peti dan cahaya (nur) lalu peti itu dibuka olehJibril. Ternyata di dalamnya terdapat beberapa lembar serpihan kain berwarna merah, hijau, dan hitam. Kemudian Rasulullah bertanya kepada jibril, ‘Apa ini wahai Jibril ?“ Maka Jibril menjawab, “Ini adalah serpihan-serpihan kain untuk umatmu yang khusus.” Dalam Risalah tersebut saya hanya menemukan ini, dan tidak ada yang lain. Maka segala puji hanya milik Allah, Tuhan Pemelihara alam. Mukadimah dari buku ini selesai sudah, dan kita akan segera pada bab berikutnya.

source: www.sufinews.com

Adab Berdzikir - 1

Berdzikir mempunyai adab-adab tertentu, baik  sebagai penghantar, sesudah, atau ketika peiaksanaannya. Ada adab yang bersifat lahiriah dan ada pula yang bersifat batiniah.

Adab Pengantar
Sebelum meiaksanakan dzikir, sebaiknya sang salik terlebih dulu bertobat, membersihkan jiwa dengan riyadhoh (olah) rohani, melembutkan sirr (batin) dengan menjauhkan dan dengan kaitan hati dengan makhluk, memutuskan segaia penghaiang, memahami ilmu-ilmu agama, dan mempelajari syarat rukun dalam fardlu 'ain, mempertegas tujuan-tujuuan luhur sebagai spirit tahapan utamanya, yang bersifat syar'i. Ia juga harus memilih dzikir yang sesuai dengan kondisi batinnya.
Seteiah itu, barulah ia berdzikir dengan tekun dan terus menerus.
Di antara adab yang perlu diperhatikan yaitu hendaknya ia memakai pakaian yang halal, suci, dan wangi. Kesucian batin bisa terwujud dengan memakan makanan yang halal. Dzikir  waiau pun bisa melenyapkan bagian-bagian yang berasal dari makanan haram, tetapi manakaia batinnya sudah kosong dari yang haram atau syubhat, maka dzikir tersebut akan lebih mencerahkan qalbu.

Namun, jika dalam batinnya masih terdapat sesuatu yang haram, ia terlebih dahulu akan dicuci dan dibersihkan oleh dzikir. Pada kondisi tersebut, fungsi dzikir sebagai penerang qalbu menjadi sifatnya lebih lemah. Ibarat air yang dipergunakan untuk mencuci sesuatu yang terkena najis, najisnya akan hilang. Tetapi, pada saat yang sama ia tak bisa membuat benda yang terkena najis tadi menjadi lebih bersih.
Oleh karena itu, sebaiknya ia dicuci uiang sehingga ketika benda yang dicuci itu teiah bersih dari najis, ia akan bertambah cemerlang dan bersinar ketimbang saat dicuci pertama kali. Demikian puia saat dzikir turun ke dalam qalbu. Kaiau qalbu tersebut geiap, dzikir akan membuatnya terang. Tetapi, kaiau qalbu tersebut sudah terang, dzikir akan membuatnya jauh lebih terang.

Adab Penyerta
Ketika dzikir dilaksanakan hendaknya disertai niat ikhlas. Majelis tempat dzikirnya diberi aroma wewangian untuk para maiaikat dan jin. Ketika duduk hendaknya bersila menghadap kibiat, biia berrdzikir sendirian. Tetapi, kaiau bersama-sama, hendaknya ia berdzikir dalam lingkungan majelis. Seianjutnya telapak tangannya diletakkan di atas paha dan matanya dipejamkan seraya terus menghadap ke depan.
Sebagian Ulama berpandangan, jika ia berada di bawah bimbingan seorang syekh (Mursyid), ia membayangkan sang syekh sedang berada di hadapannya. Sebab, ia adalah pendamping dan pembimbing dalam meniti jalan rohani. Selain itu, hendaknya qalbu dan dzikirnya itu dikaitkan dengan orientasi sang syekh disertai keyakinan bahwa semua itu bersambung dan bersumber dari Nabi saw. Sebab, syekhnya itu merupakan wakil Nabi saw.

(Namun sejumlah Ulama Thariqah Sufi melarang membayangkan wajah syeikh, karena apa pun seorang syeikh atau Mursyid kategorinya tetap makhluq. Di dalam Al-Qur'an disebutkan, "Kemana pun engkau menghadap, maka disanalah Wajah Allah." Bukan wajah makhluk. Dikawatirkan pula, jika di akhir hayat seseorang, yang tercetak dalam bayangannya adalah wajah makhluk, para Ulama Sufi mempertanyakan, apakah ia secara hakiki husnul khotimah atau su'ul khotimah? Pent.)
Ketika membaca La Ilaaha Illalloh dengan penuh kekuatan disertai pengagungan. Ia naikkan kalimat tersebut dari atas pusar perut. Ialu, dengan membaca Laa Ilaaha hendaknya ia berniat melenyapkan segaia sesuatu seiain Allah swt, dari qalbu. Dan ketika membaca Illalloh, hendaknya ia menghujamkan ke arah jantung, agar Illalloh tertanam dalam qalbu, kemudian mengalirkan ke seluruh tubuh serta menghadirkan dzikir dalam qalbunya setiap saat.

Menurut sebagian Ulama mengatakan, "Pengulangan dzikir tidak benar, kecuali dengan refleksi makna, selain  makna yang pertama."
Dan tingkatan dzikir yang minimal adalah setiap kali seseorang membaca Laa Ilaaha Illalloh, qalbunya harus bersih dari segala sesuatu selain Allah swt,. Jika masih ada, ia harus segera melenyapkannya. Jika ketika berdzikir qalbunya masih menoleh pada sesuatu selain Allah swt, berarti ia telah menempatkan berhala bagi dirinya.
Allah swt, berfirman, "Tahukah kamu orang yang mempertuhankan hawa nafsunya." (Q.S. al-Furqan: 43) `Janganiah kamu membuat Tuhan selain Allah ." (Q.S. al-Isra': 22). "Bukankah Aku teiah memerintahkan kepadamu wahai Bani Adam agar kamu tidak menyembah syetan." (Q.S. Yasin : 60).

Dalam hadits, Rasul saw juga bersabda, "Sungguh rugi hamba dinar dan sungguh rugi hamba dirham." Dinar dan dirham tidak disembah dengan cara rukuk dan sujud kepadanya, tetapi dengan adanya perhatian qalbu kepada keduanya.

La Ilaaha Illalloh, tidak benar diucapkan kecuali dengan penafian segala hal selain Allah dari diri dan qalbunya. Manakala dalam dirinya masih ada gambaran inderawi, walau seribu kali diucapkan, maka maknanya tidak membekas di qalbu.

Namun, bila qalbu tersebut telah kosong dari hal-hal seiain Allah swt, meskipun hanya membaca kata Allah, satu kali saja, ia akan menemukan kelezatan yang tak bisa diungkapkan.

Syeikh Abdurrahman al-Qana'y mengatakan, " Suatu kali aku mengucapkan La Ilaaha Illalloh , dan tak pernah kembali lagi padaku."
Di kalangan Bani Israel ada seorang budak hitam yang setiap kali ia membaca  La Ilaaha Illalloh, tubuhnya dari kepala hingga kaki-berubah warna putih. Demikianlah, ketika seorang hamba mewujudkan kalimat La Ilaaha Illalloh, sebagai kondisi qalbunya, lisan tak bisa mengaksentuasikan.

Meskipun La Ilaaha Illalloh adalah segala muara oreintasi, ia adalah kunci pembuka hakikat qalbu, seiain akan mengangkat derajat para salik ke alam rahasia.

Ada yang memilih untuk membaca dzikir di atas dengan cara disambung sehingga seolah-olah menjadi satu kata tanpa tersusupi oleh sesuatu dari luar ataupun lintasan pikiran dengan maksud agar setan tak sempat masuk. Cara membaca dzikir seperti ini dipilih dengan melihat kondisi salik yang masih lemah dalam mendaki jaian spiritual akibat belum terbiasa. Seiain terutama karena ia masih tergolong pemula. Menurut para uiama, ini adaiah cara tercepat untuk membuka qalbu dan mendekatkan diri pada Allah swt,.

Menurut sebagian ulama, memanjangkan bacaan La Ilaaha Illalloh  lebih baik dan lebih disukai. Karena, pada saat dipanjangkan, dalam benaknya muncul semua yang kontra Allah, kemudian, semua itu ditiadakan seraya diikuti dengan membaca Illalloh. Dengan demikian, cara ini lebih dekat kepada sikap ikhlas sebab ia tidak mengokohkian sifat Ilahiyah, yaitu walaupun dinafikan dengan Laa Ilaaha secara nyata, sesungguhnya ia telah menetapkan dengan "Illa" keadaannya, namun "Illa" itu sendiri merupakan cahaya yang ditanamkan dalam qalbu yang kemudian mencerahkannya.

Sebagian lagi berpendapat sebaliknya. Menurut mereka, tidak membaca panjang lebih utama. Sebab, bisa jadi kematian datang di saat sedang membaca la ilaha (tidak ada tuhan), sebelum sampai pada kata Illalloh, (kecuali Allah swt,).

Sementara menurut yang iain, biia kalimat tersebut dibaca dengan tujuan untuk berpindah dari wiiayah kekufuran menuju iman, maka tidak membaca panjang lebih utama agar ia lebih cepat berpindah kepada iman. Namun, kalau ia berada dalam kondisi iman, membaca secara panjang lebih utama .

Adab berikut
Manakala sang salik terdiam dengan upaya menghadirkan qalbunya, karena bersinggungan dengan anugerah ruhani dibalik dzikir berupa kondisi ghaybah (kesirnaan diri) paska dzikir, yang juga disebut dengan "kelelapan", maka jika Allah swt, mengirim angin untuk menebar rahmat-Nya berupa hujan, Allah swt, juga mengirim angin dzikir untuk menebar rahmat-Nya yang mulia berupa sesuatu yang bisa menyuburkan qalbu dalam sesaat saja. Padahal, itu tak bisa dicapai meskipun lewat perjuangan ruhani dan riyadhoh tiga puluh tahun lamanya. Adab-adab ini harus dimiliki oleh seorang pedzikir yang dalam kondisi sadar dan bisa memilih.

Sedangkan bagi pedzikir yang kehilangan pilihan karena tidak sadar bersamaan dengan masuknya limpahan dzikir dan rahasia ke dalam dirinya, lisannya bisa jadi mengucapkan kata Allah, Allah, Allah atau Huw, Huw, Huw, Huw, atau La, La, La, atau Aa..Aa..Aa.. atau  Ah, Ah, Ah, atau suara yang berbunyi. Adabnya adalah pasrah total pada anugerah Ilahi yang membuatnya tenang dan diam.

Semua adab di atas diperlukan oleh mereka yang akan melakukan dzikir lisan. Adapun dzikir qalbu tidak membutuhkan adab-adab tersebut.

source: www.sufinews.com

Selasa, 22 November 2011

Taubat Dan Istighfar

Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily

Hendaknya cita-citamu berada pada tiga pokok:
1. Taqwa,
2. Taubat
3. dan Waspada.

Sedangkan pilar penegaknya melalui tiga hal pula:
1. Dzikir,
2. Istighfar
3. dan Diam: sebagai ubudiah kepada Allah Swt.

Sementara benteng tradisi ini melalui empat perkara:
1. Cinta,
2. Ridha,
3. Zuhud
4. dan Tawakkal.

Apabila Anda kehilangan taqwa dalam istiqamah, maka Anda jangan kehilangan taubat dan istighfar. Lemparkanlah dirimu di pintu keridhaan, dan lepaskanlah tujuan dan kehendakmu, bahkan melepaskan taubatmu, dengan penerimaan taubat dari-Nya atas dirimu. Allah swt. berfirman: ”Kemudian Allah menerima taubat mereka, agar mereka bertaubat.”

Ketika Syeikh Abul Hasan berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu, karena itu lindungilah aku, kendalikan aku, berilah aku kekuatan dan tolonglah diriku serta kokohkanlah aku. Lindungilah dan tirailah diriku dari makhluk-Mu, dan janganlah Engkau hinakan diriku di sisi Rasul-Mu.”

Tiba-tiba muncul kata-kata yang ditujukan kepadaku,
“Kamu ini musyrik.”
Lalu aku bertanya, “Bagaimana?”

Dijawab, “Sebab Anda takut dihinakan di hadapan makhluk. Seharusnya yang Anda takuti jika Allah menghinakan Anda dihadapan manusia. Disamping itu, hati Anda harus berkait dengan Allah, bukan dengan manusia, sebab Anda tahu mereka semua tak ada yang bermanfaat bagi Anda dan juga tidak membahayakan Anda. sepanjang hati Anda berkait dengan ilmu, kemampuan, ucapan, ketekunan dan ijtihad Anda, maka Anda bukanlah orang yang berharap kepada Allah, sampai Anda bisa putus asa dengan semuanya, semata bergantung dengan harapan kepada Allah Swt. dalam seluruh jiwa. Anda bisa menemukan ruh dan pengetahuan dari Allah, walaupun Anda tidak sampai pada hajat Anda, dan cahaya itu memutuskan Anda dari melihat kepada selain DiriNya dan yang menyempitkan diri Anda.”

Aku pernah bertemu Nabi Saw. bersabda: ”Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mendapatkan petunjuk sunnahku. Dan dia berpaling dari dunia, menghadap akhirat. Dia juga tidak bermaksiat kepada Allah. Jika terjadi kemaksiatan, ia cepat beristigfar kepada Allah, tobat dan kembali tobat.”

Lantas aku bertanya, “Apakah taubat dan kembali taubat itu?”
Rasulullah Saw. menjawab: ”Bertobat dari maksiat kepada Allah, dan kembali taubat dari taat kepada Allah, untuk menuju Allah.”

Benteng paling baik adalah segala yang muncul berupa khabar pada dirimu dalam istighfar. Hakikat istighfar, adalah bahwa diri Anda tidak memiliki ketetapan pada selain Allah. Allah swt. berfirman: ”Dan Allah tidak akan menyiksa mereka, sedang mereka sedang memohon ampunan.”

Aku pernah ingin menemui salah seorang diantara para raja, lalu dosaku menawarkan kepadaku. Ketika aku beristighfar dan taubat, aku menjadi melemah. lalu muncul kata-kata: “Ya, Allah, sesungguhnya aku memohon keteguhan dalam agama, beramal secara yakin dan mohon perlindungan kepada-Mu dari pertemuan dengan dosaku. Sebab dosa itu bisa melemahkan hatiku. Berikanlah kesaksian diriku demi Engkau, dengan kesaksian yang lebih menguatkan batin jiwaku dan lubuk hatiku.

Ya Allah, tabirilah diriku dengan Ampunan-Mu, kasihanilah daku dengan Rahmat-Mu, berilah kemampuan diriku dengan Kekuasaan-Mu, lapangkanlah diriku dengan Kehendak-Mu, berilah ilmu padaku dengan Ilmu yang sesuai dengan Ilmu-Mu, dan berikanlah diriku anugerah hikmah yang selaras dengan Hikmah-Mu, berikanlah padaku ucapan jujur dalam ibadah kepada-Mu.

Jadilah diri-Mu sebagai Pendengaran dan Penglihatan, Ucapan dan Hati, serta Akal bagiku, Tangan dan Penguat bagiku. Lindungilah diriku dari kesalahan, penyimpangan dan penentangan (kehendakMu). Lindungilah diriku dari dusta dalam ucapan dan tindakan serta tingkah laku. Lindungi diriku dari dusta dalam akad, persangkaan, dugaan, penglihatan mata dan penglihatan hati. Lindungi diriku dari kesalahan intuisi dan berfikir, begitu pula dari rahasia tersembunyi dalam godaan dan was-was, citarasa dan pemikiran, kemampuan dan kehendak, gerak dan diam, dan segala yang Engkau ketahui, wahai Dzat Yang Maha Tahu segala yang rahasia. Engkaulah Tuhanku, dan bagiku cukuplah ilmu-Mu. Aku tidak memohon dan tidak merinci.

(Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya dan Maha Murah). Inilah sekadar ibadah yang berlaku menurut kehendak-Mu, yakni ubudiah memohon dan meminta, merinci dan mentotal, ucapan dan tindakan, janji dan keadaan ruhani, dan sebagainya, berupa usaha, di diberi tanpa usaha dan meminta. (Sesungguhnya Tuhanku Maha Tahu segala sesuatu).”

Minggu, 03 April 2011

JAGAD KECIL JAGAD BESAR

Guna melatih mengenali dan mengendalikan hawa nafsu, sekaligus memahami kehidupa...n serta membangun kepedulian terhadap sesamanya, ayah dan ibu melatih melakukan berbagai puasa semenjak saya berusia lima tahun. Dengan aneka macam puasa seperti puasa Ramadhan, puasa mutih dengan hanya semata-mata makan nasi putih dan minum air putih, puasa ngrowot dengan hanya memakan buah-buahan segar, semua pemahaman tadi diajarkan kepada kami.

Dalam beberapa hal pelajaran itu bisa langsung saya cerna dan pahami. Namun ada satu hal yang ternyata baru bisa saya mengerti setelah dewasa, yaitu pemahaman tentang pengibaratan manusia sebagai jagad (alam) kecil dan jagad besar.

Dalam buku “Memaknai Kehidupan” saya telah menulis, paham Jawa sering menyebut manusia dan alam raya sebagai jagad kecil dan jagad besar. Tetapi kadang-kadang juga disebut kebalikannya. Akibatnya saya pun jadi bingung.

Alhamdulillah, uraian Prof.Dr.KH. Muhibbuddin Wally dalam buku “Hakikat Hikmah Tauhid dan Tasawuf” yang membahas Kitab Al Hikam yang tersohor karya Al-Iman Ahmad Abul Fadhal gelar Tajuddin bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah Askandary, kemudian dapat menjawab kebingungan saya selama ini. Padahal sebelumnya saya telah mencoba mendalami berbagai buku tentang hal tersebut, baik buku-buku asli seperti Kidung Kawedar, Centini, Wedhatama, Wulangreh, Serat Nitiprana, Cipta Waskita, Dewa Ruci dan lain-lain, maupun tulisan-tulisan pengamat zaman sekarang.

Menurut pembahasan kitab Al Hikam tersebut, manusia akan menjadi copy dari alam atau jagad raya, atau menjadi alam kecil apabila rohaninya tidak dapat mengalahkan kemanusiaannya. Sebaliknya jika rohaninya bisa menundukkan unsur kemanusiaannya, unsur lahiriah-nya, atau hakikat dirinya lebih menonjol dibanding jangkauan pancainderanya, maka masuklah ia ke dalam “alam malakut yang jabarut”. Dalam keadaan yang seperti itu manusia menjadi jagad besar, sedangkan alam yang kita lihat justru menjadi copy dari manusia. Begitu besar rohani kita sehingga tidak dapat ditampung oleh bumi dan langit.

Kita semua sependapat bahwa manusia terdiri dari dua unsur yaitu ruh dan tubuh. Tetapi mengenai ruh dan jiwa, sulit dipisahkan dan dibedakan. Meskipun demikian, sebagian penganut tasawuf membedakan ruh dengan jiwa. Sebab jiwa itu merupakan perpaduan antara ruh dengan tubuh, dengan jasad lahir. Jadi jiwa adalah hasil kinerja antara ruh dengan jasad.

Jiwa manusia menurut Al Hikam, apabila suci dari segala kekeruhan yang datang dari alam lahiriah, maka naiklah jiwa tersebut ke alam jabarut, yaitu alam dimana malaikat termasuk dalam salah satu jenisnya. Dalam keadaan seperti ini tidak ada dinding penghalang antara sang jiwa dengan Sang Pencipta. Di mata orang yang memiliki jiwa seperti itu, alam raya nampak begitu kecil bagaikan sebutir biji sawi. Alam raya yang tertangkap oleh pancainderanya menjadi alam kecil, sedangkan dirinya menjadi alam besar.

Manusia yang seperti itu memperoleh sebutan Rohaniyin Malakutiyin, manusia-manusia rohani yang berada dalam alam malaikat, yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera manusia. Tubuh manusia yang seperti itu meskipun berada di kalangan manusia dan makhluk-makhluk lain, tetapi jiwanya melakukan perjalanan yang tidak terbatas lagi, tiada ujung, untuk senantiasa berada di sisi Allah Yang Maha Agung. Demikian pula sebaliknya, manusia disebut alam kecil yang merupakan copy dari alam mayapada, karena berbagai hakikat alam makhluk terkumpul padanya. Ada sifat setan yang keras kepala dan senang berbuat dosa. Ada sifat binatang, yang mudah marah dan kalap seperti singa buas, atau selalu berkobar nafsu syahwatnya tanpa mengenal malu dan membedakan sanak saudara seperti babi. Ada anjing yang meskipun sudah diberi makanan yang bagus-bagus toh masih tetap rakus akan bangkai, atau serigala yang penuh tipu daya dan suka main keroyok.

Manusia juga memiliki sifat tumbuh-tumbuhan, yang semula kecil, subur dan indah, menjadi besar, tua dan layu kemudian mati. Memiliki sifat langit yang dapat menjadi tempat rahasia dan cahaya dari ilmu, akal dan nuraninya. Memiliki sifat bumi, sifat Al-Qalam, sifat Lauhil Mahfuz sebagai tempat menyimpan ilmu, serta sifat-sifat ketuhanan.

Hatta, jika manusia tidak dapat mengelola dengan baik berbagai sifat tersebut, bahkan sebaliknya diperbudak, maka dirinya hanyalah merupakan alam kecil. Naudzubillah.

Copy Right: Tasawuf Jawa

Selasa, 25 November 2008

Mahabbah

Mahabbah menurut arti bahasa adalah saling cinta mencintai. Dalam kajian tasawuf, mahabbah berarti mencintai Allah dan mengandung arti patuh kepada-Nya dan membenci sikap yang melawan kepada-Nya, mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali Allah SWT serta menyerahkan seluruh diri kepada-Nya.
Konsep al-hub (cinta) pertama kali dicetuskan oleh seorang sufi wanita terkenal Rabi'atul Adawiyah (96 H - 185 H), menyempurnakan dan meningkatkan versi zuhud, al khauf war raja' dari tokoh sufi Hasan Al Basri. Cinta yang suci murni adalah lebih tinggi dan lebih sempurna daripada al khauf war raja' (takut dan pengharapan), karena cinta yang suci murni tidak mengharapkan apa-apa dari Allah kecuali ridla-Nya. Menurut Rabi'atul Adawiyah, al hub itu merupakan cetusan dari perasaan rindu dan pasrah kepada-Nya. Perasaan cinta yang menyelinap dalam lubuk hati Rabi'atul Adawiyah, menyebabkan dia mengorbankan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah SWT.
Cinta Rabi'ah kepada Allah SWT begitu memenuhi seluruh jiwanya, sehingga dia menolak seluruh tawaran untuk menikah. Dia mengatakan dirinya adalah milik Allah yang dicintainya, karenanya siapa yang ingin menikahinya harus minta izin dahulu kepada-Nya. Pernah ditanyakan kepada Rabi'ah, apakah engkau benci kepada syetan ? Dia menjawab, "Tidak, cintaku kepada Allah tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku, untuk tempat rasa benci kepada syetan. Ditanyakan apakah dia cinta kepada Nabi Muhammad SAW ? Dia menjawab, "Saya cinta kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi cintaku kepada khalik memalingkan diriku dari cinta kepada makhluk. Banyak sekali syair dan gubahan dari Rabi'ah menggambarkan cintanya kepada Allah SWT.
Al Junaidi Al Baghdadi menyebutkan, mahabbah itu sebagai suatu kecenderungan hati, artinya, hati seseorang cenderung kepada Allah SWT dan kepada segala sesuatu yang datang daripada- Nya tanpa usaha.
Abu Nasr as Sarraj at-Tusi seorang tokoh sufi terkenal membagi mahabbah kepada tiga tingkat : (1) Mahabbah orang biasa, yaitu orang yang selalu mengingat Allah SWT dengan zikir dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan-Nya serta senantiasa memuji-Nya, (2) Mahabbah orang siddik (orang jujur, orang benar) yaitu orang yang mengenal Allah tentang kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya. Mahabbah orang siddik ini dapat menghilangkan hijab, sehingga dia menjadi kasysyaf, terbuka tabir yang memisahkan diri seseorang dari Allah SWT. Mahabbah tingkat kedua ini sanggup menghilangkan kehendak dan sifatnya sendiri, sebab hatinya penuh dengan rindu dan cinta kepada Allah, (3) Mahabbah orang arif, yaitu cintanya orang yang telah penuh sempurna makrifatnya dengan Allah SWT. Mahabbah orang arif ini, yang dilihat dan dirasakannya bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Pada akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai. Cinta pada tingkat ketiga inilah yang menyebabkan mahabbah orang arif ini dapat berdialog dan menyatu dengan kehendak Allah SWT.
Banyak sekali dalil naqli, Al Qur'an dan Al Hadis yang menjadi dasar adanya mahabbah antara makhluk dengan khalik-Nya.
Firman Allah SWT,
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al Maidah 5 : 54).
Firman Allah SWT,
Artinya : Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. Ali Imran 3 : 31).
Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, "Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah akan senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang tidak senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun tidak akan senang bertemu dengannya" (H.R. Bukhari).
Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW menuturkan bahwa Jibril a.s memberitahukan bahwa Tuhan Allah SWT telah berfirman, "Barangsiapa yang menyakiti salah seorang wali-Ku, berarti telah memaklumkan perang kepada-Ku. Dan tidaklah Aku merasa ragu- ragu dalam melakukan sesuatu pun sebagaimana keraguan-Ku untuk mencabut nyawa hamba- Ku yang beriman, karena dia membenci kematian dan Aku tak suka menyakitinya, namun tidak ada jalan darinya. Cara yang paling baik bagi seorang hamba untuk mendekati-Ku adalah dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Ku-perintahkan kepadanya, dan senantiasa dia mendekat kepada-Ku dengan melakukan ibadat-ibadat sunnah sampai Aku mencintainya. Dan bagi barangsiapa yang Ku-cintai, maka Aku menjadi telinganya, matanya, tangannya dan tiang penopangnya".(H.R. Ibnu Abidunya, Al Hakim, Ibnu Mardawih dan Abu Na'im).

www.naqsyabandi.org

Jumat, 31 Oktober 2008

MUKADIMAH

Bismillahirrahmanirrahiim. Segala puji bagi Allah Yang bersinggasana di atas mega "Arsy", setelah Ia ciptakan bumi dan langit-Nya. Yang telah menurunkan al-Qur'an di malam Lailatul Qadar, malam yang diberkahi, ke langit dunia secara keseluruhan dengan surah-surah dan ayat-ayatnya. Ia telah menjalankan kendaraan melewati tempat-tempat pengumpulan dan pemilihan, Ia jadikan itu sebagai ketentuan-Nya yang terpuji. Ia telah menjalankan hamba-Nya Muhammad, di waktu malam, dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian ke langit untuk menunjukkan sebagian dari ayat-ayat-Nya.

Ia telah menurunkan Adam ke bumi cobaan-Nya setelah Ia mengeluarkannya dari sorga kenikmatan dan kesenangan-Nya. Ia telah mengangkat Idris a.s. dari dunia nyata hingga Ia menurunkannya di tempat yang mulia dan tinggi derajatnya. Ia telah membawa Nuh a.s. melewati gelombang badai topan-Nya di atas bahtera keselamatan-Nya. Ia telah membawa Ibrahim a.s. kepada hidayah dan karamah-Nya. Ia telah memisahkan Yusuf a.s. dari orang tuanya, kemudian ia menyusulkan orang tuanya kepadanya demi membenarkan bahwa mimpi yang pernah dilihatnya adalah pemberian-Nya yang terindah.

Ia telah menjalankan Luth dan keluarganya untuk Ia selamatkan dari azab dan siksaan-Nya. Ia percepat perjalanan Musa a.s. dari kaum-kaumnya untuk menghadap Tuhannya, kemudian Ia berikan kepadanya cahaya berupa api untuk memenuhi kebutuhannya. Musa datang kepada-Nya, mendekati-Nya dalam bermunajat. Ia telah mengeluarkan Musa dari kaumnya demi risalah-Nya. Ia telah menjalankan kaum Musa untuk menenggelamkan mereka yang menentang Tuhan dengan kesesatan mereka. Lalu Ia melanjutkan perjalanan Musa sampai kepada batas pengetahuan hingga bertemu dangan orang yang mendapatkan ilmu da karunia-Nya. Lalu Ia melanjutkan perjalanan Musa yang menghantarkannya kepada kekhususan dan kemampuan dalam memberikan keputusan yang diberikan Allah kepadanya. Ia telah membawa Musa kecil dalam keranjang menelusuri sungai-sungai kehancuran.

Ia telah mengangkat Isa kepada-Nya padahal ia adalah kalimat dari kalimat Allah. Ia menjalankan Yunus a.s. dengan kemarahannya memuncak hingga tersesat dalam perut Ikan yang gegap gempita. Ia telah memuliakan Thalut dengan bala tentaranya termasuk Daud a.s. untuk melewati sungai cobaan agar mereka bisa meneguk seteguk air-Nya. Ia telah menyalakan ufuk di tangan Dzul Qarnain untuk menciptakan pagar pemisah antara hamba Allah yang taat dan durhaka.

Kemudian Ia telah menurunkan Jibril di hati setiap nabi-nabiNya dan Ia mengangkat kalimah tauhid melalui amal-amal shalih dan memuliakan pemiliknya dengan melihat Dzat-Nya.

Shalawat serta salam senantiasa terkirim kepada Muhammad, sebaik-baik orang yang mengenakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Keselamatan untuknya serta untuk keluarga, sahabat-sahabat, isteri-isteri dan anak-anaknya.

**********************************************************************************
Kutipan di atas adalah pembukaan dari kitab "al-Isfar 'an-Nataijil Asfar" ("Buah-buah perjalanan"). Kitab tersebut merupakan renungan-renungan tasawuf atas beragam perjalanan yang dialami oleh mahluk Allah, ditulis oleh seorang ulama besar Muhyiddin ibn al-Arabi, terkenal dengan nama "Ibnu Arabi". Beliau merupakan salah satu ulama Andalusia, lahir tahun 560 H/1165M di kota Marsiah wilayah timur Andalus dan meninggal tahun 638H/1240M di Damaskus. Pengembaraannya dalam mencari ilmu dan mendalami ilmu tasawuf telah membuahkan berbagai karya-karya monumental. Kajiannya yang begitu mendalam dalam karya-karyanya telah menimbulkan banyak kritik dan pujian. Banyak yang menuduhnya menyeleweng dengan konsep "wihdatul wujud" (kesatuan wujud), namun bagi yang telah mendalami dan memahami karya-karyanya akan menemukan bahwa sebenarnya dalam karya beliau penuh berisi untaian mutiara-mutiara hikmah ketuhanan yang maha tinggi dan petuah-petuah ketauhidan yang maha dalam.

http://www.pesantrenvirtual.com/