Blogroll

Kamis, 31 Maret 2011

Prinsip Dasar Aiki (Aiki no Genri)

1. Fudo Genri/ Immovable principles:

Prinsip untuk menyatukan pikiran,hati & tubuh. ini adalah prinsip dasar yang pertama harus dilatih, didalamnya ada 4 poin penting.

a. Selalu berkonsentrasi pada seika tanden.

b. Selalu menjaga keadaan pikiran, hati & tubuh rileks.

c. Manifestasikan Ki dalam setiap perbuatan.

d. Menjaga Mu Shin.

2. Kihon Genri/ Basic Principles:

Prinsip dasar dalam gerakan. ini adalah prinsip yang mendasari cara bergerak yang baik sesuai hukum Aiki.

a. Chushin: Garis pusat

Segala sesuatu untuk dapat seimbang dan bergerak dengan baik harus memiliki garis pusat, dan bergerak dengan menjadikan garis pusatnya sendiri sebagai patokan.

b. Shuchu: Fokus

Proyeksi pikiran dan keyakinan hati dibutuhkan untuk dapat menggerakan bukan hanya badan fisik tapi juga energi.

c. Kokyu: Singkronisasi Nafas

Nafas adalah penghubung antara badan fisik dan energi seseorang, untuk dapat bergerak sebagai satu kesatuan yang kokoh, haruslah diperhatikan keselarasan antara gerak fisik dengan konsumsi energi sehingga gerakan dapat lebih efektif dan efisien.

d. Enshin: Gerakan melingkar

Semua gerakan yang dilakukan haruslah secara esensial berbentuk lingkaran, lingkaran adalah gerakan alamiah yang sangat efisien dan meminimalisir/ menetralkan konflik.

3. Aiki Genri:

Prinsip dasar keselarasan energi. ini adalah prinsip yang mendasari proses harmonisasi yang harus dilakukan pada saat menghadapi konflik.

a. Awase : Penyatuan hubungan/ blending

Sebuah keharmonisan diawali oleh proses penyatuan, sesuatu belum dapat dibilang harmonis, pas, klop, dengan yang sesuatu yang lain selama belum terdapat hubungan yang menyatakan bahwa kedua hal tersebut adalah sebuah kesatuan.

b. Musubi: Keterikatan/ connection

Tahap kedua dari proses harmonisasi adalah terjadi/ munculnya keterikatan satu sama lain, sehingga aksi dari satu pihak akan berakibat reaksi dari pihak lain.

c. Nagare: mengalir tanpa hambatan

Tahap berikutnya adalah penyatuan dan keterikatan dari pihak-pihak yang sedang berinteraksi menghasilkan sebuah interaksi yang sinergis sehingga, keseluruhan komponen yang telah menjadi satu kesatuan tersebut, bergerak layaknya sebuah sistem yang mengalir tanpa hambatan.

d. Takemusu Aiki: Manifestasi dari Aiki yang bersifat hampir tak terbatas.Pada tahap ini, keselarasan dari tiap-tiap komponen telah demikian optimal sehingga dilihat dari sisi manapun, dalam bentuk apapun, kapan-pun, interaksi dari tiap-tiap komponen dapat dinilai/ dirasakan sebagai sebuah keharmonisan.

Kamis, 17 Februari 2011

Cepat Sembuh Istriku..

Semalaman tidur nggak nyenyak gara-gara istri sakit batuk nggak kunjung sembuh. Batuk yang disertai dengan sesak nafas. Kasihan benar kamu istriku...udah batuk, sesak nafas nggak bisa tidur lagi. Aku hanya bisa bantu kamu mijitin...semoga adik kecil di perutmu nggak terpengaruh oleh batuk mu yach...AMIN..AMIN! Alhmdulillah setelah pagi2 diperiksakan ke PKU Muhammadiyah batuk dan sesak nafasmu sembuh.Besok jangan masuk kerja dulu ya Yank, demi kebaikanmu dan anak kita...!

Sabtu, 29 Januari 2011

Cara Split APK file di android

Cara split APK File


Soal nge-split APK File menjadi 2 bagian (1 bagian di internal, 1 bagian di sd card)

Masalah :
Banyaknya aplikasi yg ukuran gede, tapi internal memory terbatas..apalagi blm ada app2sd (froyo)

Tujuannya :
supaya apk file yg telah terinstall+datanya di internal memory menjadi lebih sedikit, dan tentunya menghemat resource internal memory.

Persiapan :
Mengetahui cara rename apk jadi zip file (gampang, tinggal klik kanan filenya di PC, langsung pilih rename)
Memiliki aplikasi "Dalvik Debug Monitor" bawaan Android SDK
HP Android agan dalam keadaan debugging mode.

Cara :
  1. Kita harus mengetahui nama dasar dr aplikasi yg mau kita split atau APK filenya.
    Contoh :
    NFS Shift = com.ideaworks3d.nfsshift
    Breakbreakers = com.ideaworks3d.tackle
    KrazyRacers = com.polarbit.krazyracers

    Untuk mendapatkannya bisa pake "instinct", liat aja di sd-card agan, ada gk nama2 dasar aplikasi yg agan pengen split/aplikasi di atas tersebut, kalo ada..abaikan langkah ini.

    Koneksikan HP Android agan dalam keadaan debug ke PC, dan nyalakan "ddms.bat" atau "Dalvik Debug Monitor" (di folder tools Android SDK)

    ikuti petunjuk di gambar di atas (dalam contoh ini ane nge-split game NFS Shift yg ukurannya 39 MB, menjadi 938 KB buat di internal, 38 MB buat di eksternal), buat dapetin lokasi penyimpanan+nama dasar aplikasi/game tersebut.

    nah di bagian runNative, ada tulisan : runNative: /data/data/com.ideaworks3d.nfsshift/files

    gunakan alamat runNative (apapun aplikasinya), buat lokasi file-file data hasil split dari APK tersebut.
    Jadi kalo tulisannya /data/data/com.ideaworks3d.nfsshift/files berarti artinya di dalam folder data di sd card, agan buat folder data, buat lagi di dalamnya folder dengan nama "com.ideaworks3d.nfsshift", dan di dalamnya buat lg folder dengan nama "files".

    Langkah 1 selesai

  2. rename nfsshift.apk (ini contoh, tergantung nama aplikasinya apa) menjadi nfsshift.zip..kemudian ekstraks pake winzip atau winrar

    Ntar hasil ekstrakannya yg berupa folder "assets", agan buka, agan periksa file yg berukuran terbesarnya apa (perlu diketahui..utk game ideaworks3d file tergede-nya slalu *.dz.jpg, dan polarbits itu slalu *.vfs, dan aplikasi/game lain yg 1 produsen biasanya sama ekstensinya), agan rename *.dz.jpg, menjadi *.dz aja
  3. Copy *.dz tersebut di sd card://data/data/com.ideaworks3d.nfsshift/files
  4. Kemudian klik 2x zip file hasil rename-an apk, explore ke dalamnya, hapus file *.dz.jpg di folder assets di dalam zip file tersebut (pokoknya hapus isi folder assets yang isinya sudah dipindahkan ke sd card).

    Maka otomatis zip file tsb ukurannya berkurang, rename lg jd *.apk.
  5. Lalu install apknya spt biasa, dan jgn lupa matiin dulu debugging dr PC, dll.

    Otomatis yg tersimpan di internal memory cm apk berukuran kecil, krn akan direct ke file di sd card.

Senin, 25 Mei 2009

Manusia Dan Pemimpin Sepertiga

Dimensi ketercerahan jiwa manusia yang dimaksud oleh la yamassuhu illal muthahharun itu, kita misalkan ada tiga. Pertama, ketercerahan spiritual. Kedua, ketercerahan mental. Ketiga, ketercerahan intelektual. Produknya adalah ketercerahan yang keempat, yakni ketercerahan moral.

Kita coba langsung saja ke empirisme sosial. Ada manusia atau pemimpin yang memperoleh pencerahan intelektual, pengetahuan dan ilmunya mumpuni, gelarnya sampai berderet deret, aksesnya besar dan luas sebagai pelaku birokrasi sejarah kehidupan modern, maupun sekurang kurangnya sebagai narasumber pengamatan. Akan tetapi effektifitas fungsinya bisa mandul, ternyata karena kecerahan intelektualnya tidak didukung oleh kecerahan spiritual dan mental.

Pintar, tapi mentalnya bobrok dan spiritualitasnya tak bercakrawala. Sehingga ilmunya berdiri sendiri. Perilakunya, habitatnya, keputusan-keputusan yang dibuatnya, tidak mencerminkan ketinggian dan kecanggihan ilmunya. Khalayak ramai akhirnya berkesimpulan bahwa semakin banyaknya oran pinter bukan hanya tidak kondusif untuk perbaikan negara dan bangsa, tetapi ada gejala malah memperburuknya. Dengan kata lain: produknya bukan moralitas kehidupan berbangsa yang baik.

Ada juga manusia atau pemimpin yang mentalnya bagus, teguh pendirian dan memiliki keberanian kejuangan. Kalau bicara tidak bohon, kalau janji ditepati, kalau dipercaya tidak berkhianat. Tetapi ia juga tidak banyak mampu berbuat apa-apa untuk menyembuhkan keadaan, ternyata sebab pengetahuannya terlalu elementer untuk meladeni kompleksitas keadaan.

Langkahnya keliru-keliru, sering naif dan pada tingkat ketegasan tertentu ia malah tampak sebagai orang brutal, radikal, fundamentalis, ekstremis justru karena terbiasa berpikir linier dan hitam putih dalam memahami sesuatu. Keadaan ini tidak ditolong pula oleh potensialitas keterbimbingan spiritual didalam dirinya. Maka ia juga tidak banyak bisa menolong perbaikan moral bangsa.

Potensi ketiga adalah manusia atau pemimpin yang bisa dijamin kejujuran pribadinya, bisa diandalkan kesalihannya, kekhusyukan hidupnya, intensitas ibadatnya. Tetapi ia tidak bisa banyak berbuat untuk pertarungan pertarungan sejarah yang luas. Ia seperti seorang eskapis yang duduk bersila dan berdzikir digua persembunyiannya. Sebab ia tidak memiliki ketercerahan intelektual untuk memahami dunia yang dihadapinya, sehingga tidak pula bisa menerapkan kehebatan mentalitasny, karena tida ada agenda untuk menyalurkannya. Hasil akhirnya, ia mandul terhadapan perjuangan moral sosial.

Masing-masing dari yang saya uraikan diatas itulah manusia sepertiga atau pemimpin sepertiga. Cerah intelektual thok, cerah mental doang, cerah spiritual melulu. Bangsa kita memerlukan manusia pemimpin yang tidak sepertiga, tetapi utuh satu, meskipun mungkin saja kita harus melewati "arisan kepemimpinan nasional" melewati satu dua pemimpin sepertiga lagi, yang harus dituruti karena masyarakat kita sedang shakao, dengan tagihan jenis narkoba kelompoknya masing-masing.

Yang pasti, dari manusia spertiga atau pempimpin sepertiga, kita tidak bisa mengharapkan watak kearifan kemanusiaan, kenegarwanan, kematangan sosial, kecerddasan futurologis, serta kepekaan terhadap komprehensi kasih sayang dalam multidimensi kehidupan berbangsa.

(Republika/2001/PadhangbBulan anNetDok)

Selasa, 25 November 2008

Mahabbah

Mahabbah menurut arti bahasa adalah saling cinta mencintai. Dalam kajian tasawuf, mahabbah berarti mencintai Allah dan mengandung arti patuh kepada-Nya dan membenci sikap yang melawan kepada-Nya, mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali Allah SWT serta menyerahkan seluruh diri kepada-Nya.
Konsep al-hub (cinta) pertama kali dicetuskan oleh seorang sufi wanita terkenal Rabi'atul Adawiyah (96 H - 185 H), menyempurnakan dan meningkatkan versi zuhud, al khauf war raja' dari tokoh sufi Hasan Al Basri. Cinta yang suci murni adalah lebih tinggi dan lebih sempurna daripada al khauf war raja' (takut dan pengharapan), karena cinta yang suci murni tidak mengharapkan apa-apa dari Allah kecuali ridla-Nya. Menurut Rabi'atul Adawiyah, al hub itu merupakan cetusan dari perasaan rindu dan pasrah kepada-Nya. Perasaan cinta yang menyelinap dalam lubuk hati Rabi'atul Adawiyah, menyebabkan dia mengorbankan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah SWT.
Cinta Rabi'ah kepada Allah SWT begitu memenuhi seluruh jiwanya, sehingga dia menolak seluruh tawaran untuk menikah. Dia mengatakan dirinya adalah milik Allah yang dicintainya, karenanya siapa yang ingin menikahinya harus minta izin dahulu kepada-Nya. Pernah ditanyakan kepada Rabi'ah, apakah engkau benci kepada syetan ? Dia menjawab, "Tidak, cintaku kepada Allah tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku, untuk tempat rasa benci kepada syetan. Ditanyakan apakah dia cinta kepada Nabi Muhammad SAW ? Dia menjawab, "Saya cinta kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi cintaku kepada khalik memalingkan diriku dari cinta kepada makhluk. Banyak sekali syair dan gubahan dari Rabi'ah menggambarkan cintanya kepada Allah SWT.
Al Junaidi Al Baghdadi menyebutkan, mahabbah itu sebagai suatu kecenderungan hati, artinya, hati seseorang cenderung kepada Allah SWT dan kepada segala sesuatu yang datang daripada- Nya tanpa usaha.
Abu Nasr as Sarraj at-Tusi seorang tokoh sufi terkenal membagi mahabbah kepada tiga tingkat : (1) Mahabbah orang biasa, yaitu orang yang selalu mengingat Allah SWT dengan zikir dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan-Nya serta senantiasa memuji-Nya, (2) Mahabbah orang siddik (orang jujur, orang benar) yaitu orang yang mengenal Allah tentang kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya. Mahabbah orang siddik ini dapat menghilangkan hijab, sehingga dia menjadi kasysyaf, terbuka tabir yang memisahkan diri seseorang dari Allah SWT. Mahabbah tingkat kedua ini sanggup menghilangkan kehendak dan sifatnya sendiri, sebab hatinya penuh dengan rindu dan cinta kepada Allah, (3) Mahabbah orang arif, yaitu cintanya orang yang telah penuh sempurna makrifatnya dengan Allah SWT. Mahabbah orang arif ini, yang dilihat dan dirasakannya bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Pada akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai. Cinta pada tingkat ketiga inilah yang menyebabkan mahabbah orang arif ini dapat berdialog dan menyatu dengan kehendak Allah SWT.
Banyak sekali dalil naqli, Al Qur'an dan Al Hadis yang menjadi dasar adanya mahabbah antara makhluk dengan khalik-Nya.
Firman Allah SWT,
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al Maidah 5 : 54).
Firman Allah SWT,
Artinya : Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. Ali Imran 3 : 31).
Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, "Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah akan senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang tidak senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun tidak akan senang bertemu dengannya" (H.R. Bukhari).
Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW menuturkan bahwa Jibril a.s memberitahukan bahwa Tuhan Allah SWT telah berfirman, "Barangsiapa yang menyakiti salah seorang wali-Ku, berarti telah memaklumkan perang kepada-Ku. Dan tidaklah Aku merasa ragu- ragu dalam melakukan sesuatu pun sebagaimana keraguan-Ku untuk mencabut nyawa hamba- Ku yang beriman, karena dia membenci kematian dan Aku tak suka menyakitinya, namun tidak ada jalan darinya. Cara yang paling baik bagi seorang hamba untuk mendekati-Ku adalah dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Ku-perintahkan kepadanya, dan senantiasa dia mendekat kepada-Ku dengan melakukan ibadat-ibadat sunnah sampai Aku mencintainya. Dan bagi barangsiapa yang Ku-cintai, maka Aku menjadi telinganya, matanya, tangannya dan tiang penopangnya".(H.R. Ibnu Abidunya, Al Hakim, Ibnu Mardawih dan Abu Na'im).

www.naqsyabandi.org