Blogroll

Selasa, 24 Mei 2011

Sensei Imanul Hakim

"Orang yang paling kuat di aikido adalah orang yang paling murni hati dan jiwanya, paling ikhlas, dan paling sabar. Bukan orang yang paling banyak membanting lawan," kata Imanul hakim.

Suasana dojo (tempat pencerahan/tempat berlatih aikido) di jalan Cipete, Jakarta Selatan, Rabu menjelang pukul 20.00, mulai ramai. Satu demi satu aikidoka (sebutan untuk orang yang belajar aikido) berdatangan. Mereka terdiri dari siswa sekolah, mahasiswa, karyawan, para profesional, juga ibu-ibu.

Ruang berukuran 10 x 10 meter yang berlantai parkit itu sudah dialasi karpet karet. Di dinding ruangan tergantung beberapa poster bertuliskan huruf kanji Jepang. Sebuah foto O-sensei (maha guru) Morihei Ueshiba, pendiri aikido, disandingkan dengan poster-poster itu.

Seorang prig berkulit putih yang sering disapa Sensei Hakim, masuk ke dojo memperagakan beberapa teknik aikido. Ia memanggil Seorang senpai (aikidoka senior) untuk bertindak sebagai penyerang. Dengan wajah tenang, Sensei Hakim menahan serangan. Bahkan ia berputar-putar seperti sedang menari. Tak lama kemudian, senpai berbobot 100 kg itu hilang keseimbangan dan jatuh. Apa sebenarnya yang terjadi?

"Teknik aikido yang dilakukan dengan benar, akan membuat lawan tidak merasa dipaksa, tidak merasa ada dorongan, tidak merasa ada tarikan, tahu-tahu ia bergerak, kehilangan keseimbangan, dan jatuh. Ekspresinya meringis dan sekujur badannya seperti kram," kata Sensei Hakim pada saat istirahat. "Bukan karena ia menahan sakit, tetapi karena ia sulit mengendalikan diri," lanjutnya.

Tenaga orang itu sebenarnya yang dipakai untuk melawan dirinya sendiri, sampai akhirnya ia terjatuh. "Sementara ekspresi orang yang diserang tidak berubah, tenang, bahkan tersenyum. Jika berubah, berarti ada sisi negatif dalam dirinya, egonya yang tampil di situ. Dan itu sudah bukan aikido," ujarnya.

Menyatu dengan Spirit Aikido

Simpatik, tegas, bersahabat, itulah kesan pertama ketika kami menemui Sensei Hakim (33 tahun) di dojo tempatnya mengajar yang bernaung di bawah Yayasan Indonesia Aikikai. Posturnya yang tegap (tinggi 183 cm dan berat 80 kg) tampak begitu gagah pada saat mengenakan paduan dogi (baju untuk latihan) dan hakama (celana tradisional Jepang) untuk berlatih aikido. Pria berdarah campuran Lampung dan Belanda ini dalam mengajarkan aikido selalu menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada murid-muridnya.

"Saya belajar aikido di Jakarta sejak SMP. Hanya untuk mencari esensi bela diri saja," tuturnya. "Teknik saya dulu keras, tidak halus seperti sekarang ini. Dulu saya nggak percaya adanya energi atau kasih sayang," sambungnya.

Tetapi, setelah menjadi guru aikido di dojo Karawaci pada tahun 1998, dan selama lima tahun mengajar Paswapres (pasukan pengawal presiden), ia mulai merenungkan kembali esensi beladiri yang sebenarnya. "Kesimpulan saya, jika seseorang hanya mempelajari tekniknya saja, maka ia akan menjadi mesin pembunuh (killing machine). Lalu buat apa manusia dilatih jika untuk membunuh orang lain? Rasanya ada yang salah kalau beladiri dipakai untuk menghancurkan orang lain," lanjutnya.

Dasarnya cinta kasih

Setelah beberapa bulan memperdalam aikido di Jepang melalui beberapa guru, seperti Ikuhiro Kubota Shihan (Director of Nara Aikikai), Yohinobu Takeka Shihan (Director of A. K.I and Shonan Aikido Federation), dan Seigo Okamoto Soke (Head of Roppokai Daito-ryu Aikijujutsu), wawasannya semakin luas. Para sensei itu bukan sekedar mengajarkan teknik beladiri, melainkan lebih ke falsafah aikido seperti nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya dan spirit bushido (orang yang rela mengorbankan hidupnya demi hal yang dianggap mulia).

"Ternyata komponen utama dalam aikido adalah hati dan pikiran, bukan badan. Saya pun tersentuh. Saya mulai menyadari ternyata aikido ini ibarat bela diri sufi," katanya. Sufi adalah orang-orang yang mengabdikan diri dan seluruh hidup dan kehidupan mereka hanya untuk Tuhan semesta alam semata.

"Dalam hubungannya dengan bela diri sebenarnya bela diri Sufi itu tidak pernah ada, tapi hanya ungkapan atau istilah pribadi yang saya gunakan untuk menjelaskan esensi aikido, khususnya kepada mereka yang Muslim. Sama seperti falsafah Sufi, esensi aikido yang disebut takemusu aiki, tidak ada ikatan kecuali ikatan dengan Sang Pencipta. Setiap gerakan yang dilakukan terikat pada divine will dan pada tingkatan ini seseorang telah terlepas ego dan nafsu rendahnya. "Hal tersebut dijelaskan oleh O-Sensei," katanya. Aikido dasarnya cuma cinta kasih, kasih sayang kepada semua makhluk, sifatnya absolut, bahkan kepada lawan atau musuh kita. "Ini yang membuat saya jatuh cinta pada aikido," tuturnya.

Diterapkan ke semua aspek kehidupan

Sulit memisahkan antara sosok Hakim dengan aikido. Agaknya ilmu beladiri asal Jepang itu sudah merasuk ke dalam jiwanya. Apabila disodori pertanyaan, jawabannya selalu mengacu pada falsafah aikido. Sebab menurutnya, filosofi aikido dapat diterapkan ke semua aspek kehidupan, seperti ke pekerjaan, kehidupan rumah tangga, dan kesehatan.

"Intinya adalah keharmonisan, yaitu keseimbangan antara hati, tubuh, dan pikiran. Pikiran kita harus jernih, hati harus bersih, tubuh harus terpelihara. Pikiran selalu dimuati hal-hal yang positif, tubuh diisi dengan makanan yang sealami mungkin, dan hati dijaga agar selalu pada zona tulus dan ikhlas," tuturnya.

Tujuan aikido menurutnya bukanlah semata-mata belajar secara teknis mengalahkan orang yang menyerang, tetapi lebih pada penempaan diri. "Bagaimana menjaga keharmonisan diri sendiri, yaitu menyatukan hati, pikiran, dan tubuh, dalam satu kesatuan. Terkadang hati berbeda dengan pikiran dan badannya, sehingga terjadi konflik internal. Konflik inilah yang merupakan sumber segala masalah. Penyakit sering muncul dari konflik internal ini, karena adanya ketidak-seimbangan dalam tubuh," lanjutnya.

Pemikir yang Sering Merenung

Sensei Hakim adalah seorang pemikir, ia mengaku sejak remaja sudah sering merenung tentang nilai-nilai kehidupan. Misalnya, mengapa alam ini ada, mengapa ia ada, bagaimana Sang Pencipta mengatur alam ini. Sehingga, menurutnya, jika konsep sehat dikaitkan dengan kebesaran Tuhan, bukanlah hanya tidak sakit, tetapi merupakan tanggung jawab manusia untuk selalu menjaga kesehatannya. "Tuhan menciptakan kita dalam bentuk yang sempurna, ya jangan dirusak. Hidup ini amanah. Kita diberi hati adalah amanah, artinya harus dipelihara. Diberi pikiran juga amanah, demikian pula diberi badan pun amanah," katanya lagi.

Anda agaknya spiritual sekali? Pria yang pernah kuliah di Universitas Muhammadiyah jurusan tarbiyah itu tersenyum. " Dalam hidup saya ada dua hal yang menarik. Pertama, masalah spiritual dan agama. Kedua, bela diri. Kedua hal ini seakan-akan berjalan seiring, tetapi tidak bersatu. Ibaratnya satu di kanan, satu di kiri. Tetapi dalam perjalanan hidup saya, tiba-tiba keduanya kok semakin mendekat, dan akhirnya menyatu," ujarnya.

Aikido dan spiritualisme

Pun kepada murid-muridnya yang kebanyakan non-Muslim, ia selalu menanamkan nilai-nilai spiritual dengan bahasa universal. "Saya sering mengajak mereka untuk ikut merenung tentang alam semesta, atau sekadar merenungkan siapa diri kita, siapa Sang Maha Pencipta, dan tidak lupa saya selalu mengingatkan agar sebagai makhluk kita harus banyak bersyukur," katanya.

Ia pun sering memberikan kiatnya agar bisa harmonis dengan orang lain. "Kalau kita bisa melihat keagungan Tuhan pada diri orang lain, bahkan pada lawan kita, kita akan berhenti memusuhinya. Mungkin saja keberadaannya memang diciptakan untuk kita, untuk saling mengambil pelajaran. Seperti halnya fenomena siang dan malam di alam semesta ini, bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk mencapai suatu keharmonisan."

Adakah murid yang protes jika Anda memberi nasihat seperti itu? "Ya, ada murid yang nggak tahan. Mereka bilang, saya ini ngajar apa?" katanya sambil tertawa.

Diet Chi

Demi menjaga kesehatan, dalam kesehariannya bersama Shanti, istrinya, ia berusaha mengkonsumsi makanan yang bersahabat dengan tubuh. "Kunci utamanya adalah keseimbangan. Saya tidak pantang makan daging. Roti pilihan saya roti gandum. Sayur dan buah-buahan organik selalu saya usahakan, kendati masih mahal," katanya. Sedangkan makanan dalam kaleng, seperti makanan ringan atau kornet, sudah lama dihindarinya.

Pemilihan makanan sehat itu tidak terlepas dari sebuah buku Diet Chi (bahasa Mandarin chi adalah energi) yang pernah dibacanya. "Saya mencoba menerapkannya dalam keseharian meski agak sulit, karena kita sudah terkepung oleh berbagai makanan yang artifisial," ujarnya.

Buku itu membahas empat kategori penting yang berkaitan dengan chi makanan. Makanlah sesuatu pada usia chi-nya. "Misalkan kita memetik tomat dari pohonnya, lalu kita letakkan di meja tanpa kita masukkan ke kulkas. Berapa lama ia tahan? Katakanlah tiga hari, maka itulah usia chi atau usia kehidupan tomat itu, "katanya. Tetapi dengan teknologi, kita bisa memanipulasinya, misalnya dengan memasukkannya ke kulkas. "Tomat bisa tahan berminggu-minggu, tapi energinya 'terbang', sehingga yang kita makan hanya "bangkainya". Vitamin memang tersisa, tetapi kita tidak lagi mendapatkan energi yang bagus, " tuturnya.

Lalu, usahakan makan sesuatu yang tidak terkontaminasi bahan kimia, seperti sayur organik, buah organik, karena sayur dan buah organik tidak diberi pestisida. "Hal yang baik untuk pertanian kita, makanlah apa yang tumbuh di negeri/tanah sendiri," lanjutnya. Tidak mengimpor dari luar negeri, karena kita hidup di iklim yang sama, lahir di tempat yang sama, chi-nya sama. Yang kita butuhkan adalah makanan yang chi-nya sama dengan kita. "Kita nggak butuh makanan yang tumbuh di negara empat musim karena chi-nya berbeda. Kita sering bangga makan makanan luar negeri, tetapi menurut diet chi, itu salah," sambungnya.

Yang keempat, jangan memproses makanan secara berlebihan. "Kita boleh merebus makanan, tetapi jangan terlalu lama, karena chi-nya akan rusak," katanya.

Self healing dan obat alami

Dalam rangka menjaga kebugaran sebagai rasa tanggungjawab merawat kesehatannya, sebisa mungkin ia menghindari pemakaian obat-obatan. "Saya suka mengkonsumsi minuman prebiotik, terutama kalau sakit perut karena salah makan. Tetapi kalau sakit perut karena keracunan, saya memilih norit. Saya lebih suka minum obat-obat alami seperti itu," katanya.

Bahkan, ia punya cara sendiri untuk mengusir rasa sakit, seperti pengalamannya menghadapi sakit gigi. Padahal, pada saat yang bersamaan waktunya, ia harus mengajar di dojo. "Saya cuma diam mengamati diri saya sendiri, dan berbicara di dalam hati. Saya tahu gigi saya berlubang, dan saya harus ke dokter. Tapi hari ini saya harus mengajar, kasihan murid-murid saya. Besok kita ke dokter, tapi sekarang bantu saya karena saya harus konsentrasi. Gigi yang sakit diajak mengobrol saja, spontan sakitnya hilang. Berarti kita bisa bernegosiasi dengan tubuh kita, berkompromi, berbicara dengan diri kita sendiri. Biasanya berhasil, tetapi tentu saja itu dengan seizin Allah," katanya.

Apakah dengan melatih teknik-teknik aikido, seseorang bisa mendapatkan kesembuhan? "Insya Allah, bisa. Beberapa orang yang mengalami pengapuran, bisa sembuh. Tetapi tentu saja bukan penyakit yang berat seperti kanker," katanya.

Menghidupkan kembali nilai-nilai moral

Dengan membentuk komunitas aikido, ia bertujuan menghidupkan kembali nilai-nilai moral dan spiritual. "Harapan saya, aikido bisa menjadi sumbangan untuk bangsa ini. Bangsa kita adalah bangsa yang kaya tetapi miskin hati. Kita banyak dikelilingi oleh orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri dan kelompoknya. Tetapi tidak bisa melihat apa yang terbaik untuk bangsa ini dan berkorban untuk itu," ujarnya.

Sebelum latihan, Sensei Hakim mengumpulkan murid-muridnya dan mengajak mereka duduk berhadapan. Mereka melakukan meditasi bersama. Meditasi itu disebut mokuso, artinya membersihkan hati dan pikiran untuk melakukan satu hal secara fokus 100%. Sebab, selama di dojo mereka tidak diperkenankan membawa hal lain. Seperti masalah yang ruwet di rumah, energi negatif dalam pikiran, emosi atau rasa kesal. "Yang harus selalu tertanam adalah rasa damai dan cinta kasih terhadap Sang Pencipta dan alam semesta yang indah ini,"katanya.

Sumber: http://cybermed.cbn.net.id/

Kamis, 28 April 2011

Seni Beladiri yang Datang dari Hati

Aikido adalah Budo. Banyak orang berpikir bahwa Budo adalah jalan (cara) untuk membela diri atau suatu alat yang dapat dipakai untuk membela diri. Pendapat ini tidak salah, namun juga belum sepenuhnya benar. Jika kita berpikir bahwa Budo hanya sebagai alat untuk membela diri, bahkan hewan pun dapat membela diri mereka dengan menggunakan kemampuan fisik dan naluri (insting). Oleh sebab itu, apabila manusia hanya dapat bergantung kepada kemampuan tubuh dan instingnya saja untuk membela diri, maka dimana perbedaan antara kita manusia dengan hewan? Sebenarnya kita dapat melihat dengan jelas perbedaan manusia dengan hewan, yaitu keberadaan hati nurani dan akal, yang hanya dimiliki oleh manusia. Orang jepang menyebut kedua hal tersebut sebagai Kokoro .

Dengan Kokoro , anda dapat menjadikan jalan peperangan menjadi jalan kedamaian dan keindahan, jalan untuk membunuh menjadi jalan untuk mencintai dan melindungi. Maka Budo bukanlah jalan untuk menghancurkan sesuatu, melainkan jalan untuk mengharmoniskan segala sesuatu di dunia ini. Bagi O Sensei Bu didalam Budo bukan berarti perang melainkan cinta kasih. Maka jelaslah bahwa intisari atau esensi dari ajaran Budo adalah Kokoro .

Budo sejati tidak berdasarkan kepada penampilan fisik dan keahlian/ kemampuan beladiri, karena segala sesuatu yang berasal dari kedua hal tersebut memiliki keterbatasan yang jelas dan sangat bergantung pada hukum relativitas. Sering kali kita membuat penilaian terhadap orang lain, hanya melalui penampilan fisik atau keahlian secara teknis saja. Sering kali kita mengatakan bahwa orang itu kuat atau orang itu lemah, orang itu cepat atau orang itu lambat,dan sebagainya . Itu semua bukan inti dari Budo yang sebenarnya. Budo sejati berdasarkan kepada Kokoro karena Kokoro memiliki batasan yang hanya Tuhan yang tahu, Budo bahkan mampu menampung luasnya alam semesta. Kokoro juga tidak mengenal hukum relativitas. Tidak ada besar, tidak ada kecil, tidak ada kuat, tidak ada lemah, semua nilai dan ukuran di dunia ini merupakan satu bagian dari alam semesta. Semua membentuk keharmonisan tanpa adanya konflik sedikitpun, sesuai dengan yang diperintahkan oleh Sang Pencipta kepada mereka. Ini bagian dari Aiki No Kokoro atau The Spirit of Aiki .

Jiwa sejati dari Budo dan Aiki adalah jiwa universal. Setiap orang dengan tidak bergantung pada keadaan fisiknya dapat mencapai kekuatan sejati dari Budo. Kekuatan sejati tidak datang dari tubuh melainkan dari hati atau Kokoro anda masing-masing. Aikido adalah Kokoro no Budo atau seni beladiri yang muncul dari hati . Setiap teknik yang anda lakukan haruslah berasal dan datang melalui hati atau Kokoro . Tanpa hal ini, maka teknik yang anda lakukan tidak akan hidup , karena teknik tersebut tidak memiliki energi kehidupan atau Ki . Bagaimanapun efektif nya suatu teknik, jika teknik tersebut tidak datang dari hati dan tidak bersandar pada ketulusan, maka hal ini dapat disebut sebagai dead technique . Dapat dikatakan tanpa hati atau Kokoro , maka tidak akan ada Ki . Tanpa Ki maka tidak akan ada Aiki , maka tidak akan ada AIKIDO. Oleh karenanya, Kokoro harus terdapat pada dasar setiap teknik dan tujuan sejati dari setiap latihan Aikido adalah untuk mendidik hati atau Kokoro serta memahami esensi dari Jiwa Aiki atau Aiki No Kokoro.

source: www.aiki-kenkyukai.com

Senin, 25 April 2011

Risalah Ke 4 (Al-Isfar 'an-Nataijil Asfar)


Mereka yang melakukan perjalanan dari Allah terdapat tiga golongan. Pertama : mereka yang dicampakkan, yaitu iblis dan orang-orang yang menyekutukan Allah. Kedua : mereka yang tidak ditolak dan tidak dicampakkan, namun penuh dengan kebimbangan dan keraguan, inilah orang-orang yang bergelimang maksiat, karena mereka tidak mampu singgah dalam keramaian dengan menentang rasa malu yang menguasainya. Dan ketiga adalah perjalanan ujian dan pemilihan, seperti perjalanan para utusan Allah dari-Nya kepada makhluq dan perjalanan kembali para pewaris dan ahli makrifat dari pengembaraanya menyaksikan dunia nafsu dalam kekuasaan, pemerintahan, tipu daya dan rekayasa.

Orang-orang yang berpergian menuju Allah juga terdapat tiga golongan.

Pertama mereka yang menyekutukan Allah, mem-benda-kan-Nya, menyerupakan-Nya dengan mahluk dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat yang tidak layak untuk-Nya. Allah telah menegaskan “Tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya” (al-Syuura:11). Mereka ini hanya akan sampai kepada “hijab” yang menutupinya dari rahmat-Nya.

Kedua adalah mereka yang mensucikan Allah dari segala hal yang tidak layak dan mustahil untuk-Nya, dari apa-apa yang “mutasyabihat” yang datang dalam kitab-Nya, lalu ia berkata “Allah Maha Mengetahui dari apa yang ada dalam kitab-Nya”. Meskipun mereka tidak menyekutukan Allah, namun mereka masih melalui penyimpangan. Mereka ini akan sampai kepada ketercelaan, meskipun tidak sampai kepada “hijab” atau ketertutupan dan siksaan yang abadi. Ibaratnya apa yang didapatkan orang-orang yang memberi santunan, berdiri di depan pintu, lalu orang-orang menempatkannya di tempat mulia, namun ia dicela karena tidak memberikan penghormatan.

Ketiga adalah perjalanan orang-orang yang dijaga dan dilindungi, diperhatikan dan disertai dengan petunjuk jalan. Mereka ditakuti manusia namun mereka tidak pernah takut, disedihkan manusia namun mereka tidak pernah sedih, karena sebenarnya mereka telah meninggalkan ketakutan dan kesedihan itu. Orang yang telah meninggalkan sesuatu tidak mungkin ia ada di dalamnya. “Mereka tidak disedihkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat) dan mereka disambut oleh para malaikat. Malaikat berkata “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu” (al-Anbiya’:103). Itulah kebahagian mereka di akherat. Mereka pergi ke sana.

Sedangkan orang-orang yang pergi bersama Allah, atau mendalami Allah terdapat dua golongan.

Golongan pertama ialah mereka yang pergi dengan pemikirannya dan menyelam dengan akalnya lalu mereka tersesat dan pasti akan tersesat, karena mereka berkeyakinan bahwa tidak ada penunjuk jalan kecuali akal dan fikirannya. Itulah para filosuf dan orang-orang yang mengikuti jalannya.

Golongan kedua adalah mereka yang diantarkan kepada-Nya, yaitu para utusan, nabi Allah dan orang-orang yang terpilih dari para wali-Nya, seperti Sahl bin Abdullah, Abu Yazid, Farqad As-sabkhi, Junaid bin Muhammad, Hasan Basri dan para ulama terkenal di zaman kita ini.
Akan tetapi kalau diamati, zaman kita bukanlah seperti zaman-zaman yang lalu (zaman Rasulullah) karena dekatnya zaman kita dengan alam akhirat, maka tabir-tabir rahasia banyak terkuak pada masa ini, lapisan-lapisan ruh mulai jelas dan nampak. Ulama pada masa kita lebih cepat membuka tabir (ilmu ghaib), lebih banyak mencapai kesaksian, lebih luas makrifat dan lebih sempurna dalam hakekat, namun lebih sedikit dalam amalnya dibandingkan dengan ulama zaman dulu. Mereka dulu banyak amalnya meskipun lebih sedikit “kashf”-nya (terbuka ke alam ghaib) dibandingkan kita. Itu karena kita jauh dari zaman sahabat yang menyaksikan langsung nabi Muhammad s.a.w. dan turunnya ruh-ruh kepadanya di tengah-tengah mereka. Mereka yang menerima cahaya pada masa itu sangat sedikit seperti Abu Bakar siddiq, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib r.a. dan para ulama sepadannya. Amal pada masa lalu lebih banyak dilakukan dan ilmu pada masa sekarang lebih banyak didapatkan, dan ini terus bertambah hingga pada saat turunnya Isa a.s. Satu rakaat dari kita sekarang ini nilainya seperti ibadah satu orang orang pada masa lalu sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. “Bagi orang yang beramal diantara mereka (pada masa dimana kebencian menjadi panutan, nafsu menjadi guru, harta menjadi penentu dan orang-orang bangga dengan pendapatnya sendiri-sendiri) pahalanya seperti pahala limapuluh orang yang beramal seperti amalan (pada zamanmu) sekalian” (Tirmizi, Ibnu Majah).
Alangkah indahnya perumpamaan itu dan alangkah halusnya isyarat yang diberikan Rasulullah s.a.w. Ini karena kedekatan kita dengan zaman akhir dan mulai nampaknya hukum-hukum dunia “barzakh”. Tidakkah kamu ingat perkataan Rasulullah: “Tidak akan datang hari kiamat sehingga paha seseorang berbicara tentang apa yang diperbuat si tuannya dan ujung cemeti (menceritakan apa yang dilakukan pemiliknya) dan pohon-pohon memberi tahu: “Ini ada orang yahudi yang bersembunyi di belakangku, bunuhlah ia”.

Ini semua terjadi di dunia, tidak lain karena mulai nampaknya perkara akhirat yang merupakan alam kehidupan. Sesungguhnya ilmu (hikmah) ini mulanya satu lalu menyebar dan ini memerlukan pembawa dan penyebarnya. Semakin banyak yang menyebarkannya, karena ini ilmu yang dimiliki orang-orang salih, maka ia pun terbagi. Itulah mengapa pada masa awal, sedikit orang yang mendapatkannya, dan mereka yang mendapatkannya pun tidak tampak dan tidak terlihat, karena ilmu tersebut menyebar di antara mereka.

Semakin sedikit orang-orang yang membawa ilmu tersebut, karena kerusakan yang telah merajalela di antara mereka, semakin banyak mereka bisa mendapatnya, karena bagian yang seharusnya menjadi milik orang-orang “fasik” diberikan juga kepada mereka. Itulah mengapa orang-orang salih pada masa akhir banyak bisa mendapatkan ilmu, “kasyf” dan terbukanya tabir (ghaib). Mereka yang dikaruniai ilmu ini pun akan terlihat dan nampak karena ilmu tersebut menonjolkannya dikarenakan banyaknya. Maha suci Dzat yang telah memberikan semuanya.
Amal mereka yang hidup di akhir zaman tetap senilai bila ditimbang dengan amal para pandahulunya, karena mereka mengikuti jalan pendahulunya. Ini karena timbangan yang ada adalah amal dan bukan ilmu kepada Allah, dan ilmu kepada Allah akan mempunyai nilai tersendiri “Itulah karunia Allah yang diberikannya kepada orang yang Ia kehendaki. Allah mempunyai karunia yang agung” (al-Hadid: 21).

Risalah Ke 3 (Al-Isfar 'an-Nataijil Asfar)


Alam langit selalu diwarnai dengan perputaran bersama-sama dengan apa yang terkandung di dalamnya. Ia tidak pernah berhenti dan diam. Seandainya ia diam niscaya alam semesta ini hancur dan sirna. Perputaran bintang-bintang di angkasa merupakan perjalanan mereka, seperti dijelaskan oleh al-Qur’an “Dan telah Kami tetapkan bagi bulan tempat-tempatnya” (Yaseen :39). Bergeraknya empat arah angin, bergeraknya janin-janin dalam setiap detik dengan perubahan dan perpindahan pada setiap nafas, perjalanan fikiran antara hal terpuji dan tercela, perjalanan nafas yang dihembuskan oleh mereka yang bernafas, perjalanan mata antara bangun dan terpejam, perjalanan pandangan dari satu dunia ke dunia yang lainnya dengan pengamatan dan I’tibar, semuanya adalah perjalanan yang dicerna oleh akal manusia.
Ada yang berkata bahwa dunia fisik ini sejak diciptakan oleh Allah senantiasa dalam perjalanan (proses) yang menempati ruang dan tak pernah berhenti. Maka sebenarnya kita semua senantiasa dalam perjalanan itu, sejak kelahiran kita, kelahiran nenek moyang kita sampai masa yang tak berujung. Ketika kamu merasa sampai di satu tujuan kemudian kamu berkata: “Ini lah sebenarnya tujuanku”, tiba-tiba terbuka untukmu jalan-jalan yang lain dan jalan itu terus bertambah, lalu kamu pun meninggalkan tempat itu. Tidak ada satu pun tempat dimana kamu sampai kepadanya, meskipun kamu telah berucap “Inilah tujuanku”, pasti sejenak setelah itu kamu meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan yang lain.
Betapa banyak kamu berjalan melewat tingkat-tingkat kejadian dalam dirimu, mulai dari darah yang mengalir di tubuh bapak dan ibumu, kemudian darah itu berkumpul membentukmu entah dengan atau tanpa kesengajaan mereka. Kamu pun berubah menjadi mani (sperma), lalu berubah menjadi segumpal darah, lalu kamu melewati itu dan berubah menjadi segumpal daging, lalu tulang yang kemudian terbungkus daging, lalu ditumbuhkan sekali lagi dan dikeluarkanlah kamu ke dunia.

Lalu kamu pun melewati masa bayi, ke masa kanak-kanak lalu ke masa remaja dan dewasa, lalu ke masa tua dan pikun, inilah masa yang paling hina dari umurmu. Dari situ kamu pun pergi ke alam barzakh, setelah itu kamu akan melewatinya menuju hari kebangkitan. Kamu pun akan melewati jembatan (shirat) yang akan menghantarkanmu ke sorga atau ke neraka, bila kamu memang penduduknya. Namun apabila kamu bukan penduduk neraka, kamu masih akan melewati perjalanan neraka menuju sorga dan dari sorga ke tempat melihat Allah dan begitulah selamanya, kamu akan mondar-mandir dari sorga ke tempat melihat Allah.

Mereka yang di neraka juga terus mengalami perjalanan, naik dan turun silih berganti seperti sepotong daging yang direbus di dalam periuk di atas api yang membara “Setiap kali kulit mereka terkelupas, Aku gantikan dengan kulit yang baru agar mereka merasakan pedihnya siksaan-Ku”(An-Nisaa :56).

Tidak ada yang diam dan berhenti di alam ini. Siang dan malam, dunia ini senantiasa diwarnai dengan gerak dan perubahan yang silih berganti. Fikiran, perilaku dan sifat juga demikian, senantiasa berubah silih berganti bersama perubahan siang dan malam dan bersama silih bergantinya hakekat ilahiyah di atas semuanya. Hakekat ilahiyah terkadang turun dengan nama-Nya Yang penuh kasih sayang, terkadang dengan nama-Nya Yang Maha menerima taubat, Maha Memaafkan, terkadang dengan nama-Nya Yang Maha Memberi rizqi, Maha Mengkaruniai dan terkadang turun dengan nama-Nya Yang Maha Membalas dan dengan semua nama-nama Ilahiyah-Nya.

Hakekat ilahiyah tersebut terkadang turun kepadamu dari keagungan-Nya dengan karunia, rizqi, dendam, taubat, ampunan dan kasih sayang. Ia turun kepadamu atas permohonan dan ia turun dari-Nya atas karunia.

Dari situ seorang hamba hendaknya berfikir, agar menyelami perbedaan antara perjalanan yang ia diperintah untuk mempersiapkannya, perjalanan yang di dalamnya penuh dengan kabahagiaan, yaitu perjalanan kepada-Nya, bersama-Nya dan dari-Nya. Semua perjalanan ini telah disyariatkan kepadanya. Dan antara perjalanan yang tidak diperintahkan untuk mempersiapkannya, seperti mengayunkan kaki di atas bumi ke jalan yang halal, perjalanan dagang untuk melipatgandakan harta dan menyimpannya, dan seperti perjalanan nafas keluar dan masuk. Ini merupakan kabutuhan bagi pertumbuhannya.

Kita berdoa kepada Allah agar dikaruniai akhir yang penuh bahagia dan kesehatan yang sempurna.

Risalah Ke 2 (Al-Isfar 'an-Nataijil Asfar)

Terdapat tiga jenis perjalanan yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya, yaitu perjalanan dari Allah, perjalanan kepada-Nya dan perjalanan bersama-Nya. Mereka yang melakukan perjalanan dari Allah, keuntungan yang akan didapatkannya adalah sebatas apa yang diperolehnya dalam perjalanan tersebut. Mereka yang melakukan perjalanan bersama Allah, tidak akan mendapatkan keuntungan kecuali apa yang ada dalam dirinya. Kedua perjalanan ini pasti mempunyai tujuan dan memerlukan ayunan langkah untuk mencapainya, kecuali perjalanan orang yang sesat yang tidak mempunyai tujuan yang pasti.
Jalan yang dilalui seorang musafir adalah darat dan laut. Allah berfirman “Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan dan lautan” (Yunus : 22). Allah mendahulukan kata “darat” sebelum “laut” menujukkan bahwa seorang musfir tidak akan bepergian melewati laut kecuali terpaksa. Umar bin Khattab pernah mencela : “Seandainya tidak ada ayat ini, tentu aku akan melarang orang bepergian melewati laut”.
Seandainya ayat yang menganjurkan bepergian hanya sabda Allah “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan ni’mat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Sesungguhnya dari itu semua (apa yang kalian lihat) adalah tanda-tanda bagi mereka yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (Luqman : 31), tentu ayat (surah Yunus) di atas juga cukup menjadi jawabannya.

Setiap perjalanan pasti akan melewati bahaya, kecuali perjalanan yang ditanggung oleh Allah, seperti perjalanan Isra’. Orang yang diperjalankan atau diajak berpergian oleh Allah pasti akan selamat, sementara orang yang berpergian sendiri pasti akan melewati mara bahaya.
Karena “wujud” sumbernya adalah “gerak”, maka demikian halnya Allah tidak akan terselimuti oleh sifat diam dan berhenti, karena itu mencerminkan ketidak-adaan (hampa). Demikian lah perjalanan ini selalu terjadi di alam langit (atas) dan alam bumi (bawah). Hakekat ilahiyah juga demikian, selalu diwarnai perjalanan pergi dan perjalanan pulang. Kita tahu bahwa Allah turun ke langit dunia dan kita tahu bahwa Allah bersinggasana di atas langit, seperti yang diceritakan oleh ayat-ayat-Nya. Kita tahu itu dengan tanpa perumpamaan dan persamaan.