Blogroll

Rabu, 21 Maret 2012

Shohibu Baiti

Shohibu baiti… Ya shohibu baiti…
Tuan rumahku… Wahai tuan rumah(ku)


Imamu hayatii… Ya Imamu hayati…
Pemimpin hidupku… Wahai pemimpin hidupku

Mursyidu imanii… Anta syamsu qolbiy…
Penuntun imanku… Engkau (cahaya) mentari hatiku

Qomaru fuadi… Ya qurratu ‘aini…
Rembulan jiwaku… Wahai penyejuk mataku

Syafi’u nashibiy… Ya maula jihadiy…
Penolong (dari) beban(berat)ku… Wahai muara perjuanganku

Ufuqu Syauqi… Ya baabu akhirati…
Cakrawala rinduku… Wahai pintu keabadianku

Download mp3 nya..!

Minggu, 08 Januari 2012

RASA dalam AIKIDO

Karena tidak ada pertandingan di Aikido kita harus memberikan pemikiran-hati dengan sifat latihan kita. Sisi spiritual praktek juga penting, tetapi jika kita terlalu menekankan hal itu pelatihan kita menjadi idealis di alam dan aspek realistis adalah diabaikan.Kata (Bentuk) dan waza (Teknik) harus benar diakui dalam praktek.

Kata untuk Waza

Kata harus dilakukan menurut urutan tertentu atau metode yang telah diatur sebelumnya yang didasarkan pada hubungan rasional (riai). Jadi, kita tidak jatuh karena kita yang dilemparkan melainkan kita berlatih kata yang dirancang bagi kita untuk dilempar. Ketika kita menguasai sebuah gerakan rasional (kata), hal ini dinyatakan sebagai gerakan alami (Waza). Artinya, jika Anda menjadi mampu mengeksekusi kata secara spontan sebagai akibat dari latihan berulang, Anda tidak lagi melakukan suatu kata tetapi melaksanakan Waza. Kita belajar melalui kata dan menjadi tak sadar kenyataan. Dengan kata lain, selama sebagai gerakan membutuhkan perhatian kita mereka kata, ketika kata menjadi spontan mereka menjadi Waza.

Kami pertama praktik kata dasar (kihon Waza, teknik dasar) untuk mempelajari gerakan Aikido. Dasar-dasar standar (cara melihat dan berpikir) dan perspektif akal umum untuk mengamati hal-hal dengan benar. Kita harus memahami esensi dari kata, bukan penampilan luar mereka.

Sebagai contoh, dalam sebuah teka-teki yang melibatkan potongan kayu saling terkait, yang tahu penempatan (stabilitas) dari masing-masing bagian dengan memahami bentuk dan alam. Dengan cara yang sama, kita dapat mengekspresikan kata yang umum untuk semua orang dengan menunjukkan bagian umum dasar struktur tubuh manusia (misalnya, poin seperti siku menekuk ke dalam-satunya) dan kita harus menggunakan bagian-bagian dasar rasional. Ini mungkin tampak berlebihan untuk menggunakan istilah rational atau logical namun konsep-konsep ini hanya masalah akal sehat dan perlu penjelasan.

Selama kita bertahan dalam melihat kata dangkal, kita akan mulai berpikir bahwa mereka adalah penting khusus. Seseorang tidak dapat secara sistematis atau rasional menjelaskan kata apapun hanya dengan belajar secara berulang tanpa pemahaman tentang mengapa kata tertentu yang dianggap dasar. Apa yang kita peroleh dengan belajar hanya berulang-ulang adalah pelestarian bentuk (transmisi bentuk eksternal) dan tidak kemampuan untuk membuat (pemahaman tentang esensi kata). Dengan kata lain, seseorang tidak mengerti apa yang dia lakukan.

Dasar tidak sesuatu yang harus dipraktekkan tapi untuk dipahami. Apa yang mereka menunjukkan adalah mekanisme bagaimana ketidakseimbangan lawan dan menciptakan kesempatan untuk aplikasi teknik. Jika Anda salah paham ini berarti memimpin dan membimbing akan menimbulkan keyakinan bahwa seseorang dapat memimpin lawannya sirkuler. Hal ini terjadi karena salah satu tidak menyadari bahwa memimpin pasangan sirkuler menyiratkan pemisahan dan tidak jadi melihat bahwa praktek adalah sebuah ekspresi dari yin dan penggunaan kekuasaan dalam Aiki melibatkan mendorong.

Kata: Alat Pelatihan

Dalam pelatihan kita berlatih banyak teknik tetapi mereka semua variasi dari sikap tunggal. Oleh karena itu, ikkyo, shihonage dan teknik lainnya adalah sama. Alasan mereka terlihat berbeda hanya karena penampilan luar mereka terlihat. Kata adalah ekspresi dari sejumlah variasi melalui gerakan dari sebuah sikap tunggal dan tidak lebih dari alat untuk pelatihan tubuh untuk bergerak bebas. Gagasan bahwa satu adalah semua dan semua adalah satu bukan hanya masalah spiritual. Memang benar untuk tubuh kita juga.

Ini tidak berarti bahwa ada metode yang berbeda tergantung pada teknik, misalnya, mengatakan bahwa ikkyo dipraktekkan dalam satu cara dan ini dan itu teknik dengan cara lain. Mereka semua manifestasi dari gerakan tunggal. Artinya, kita berlatih berbagai kata untuk memahami gerakan tunggal asli. Ini tidak berarti bahwa ikkyo dan shihonage adalah dari nilai sebagai teknik dasar. Kita berlatih mereka hanya sebagai sarana yang nyaman untuk memahami yin dan yang dari sikap (mendasar).

Praktek Aikido adalah praktek yin. Menggunakan Judo sebagai contoh, itu seperti praktik mitra daripada randori (latihan bebas). Yin mewakili praktek terutama urutan praktek yang telah disepakati. Dengan demikian, pergantian dalam pelatihan dari penerimaan serangan ke penerapan teknik ini hanya mungkin di mana perbedaan dalam kemampuan ada. Ketika kemampuan oneâ lawan lebih unggul ini tidak mungkin. Ini adalah titik kunci dalam praktek.

Waza (gerakan alami) dinyatakan sesuai dengan level dan substansi mereka (teknik) diwujudkan secara berbeda setiap kali. Hal ini karena apa yang secara alami memiliki kemampuan sebagai dibawa keluar melalui praktik berulang) dinyatakan melalui hubungan tertentu (bentuk).

Rabu, 23 November 2011

Your Strength is Your Weakness

Apapun kondisi kita, entah itu lemah, kuat, besar, kecil, tinggi, pendek, ternyata tidak menjadi halangan untuk dapat mengalahkan lawan. Selama kita dapat mengiklaskan jiwa dan raga untuk menghadapi keadaan apa adanya, apapun bentuknya, kita akan selalu dalam kondisi siap. Ikhlas terhadap diri sendiri.

Setelah ikhlas menerima kondisi apapun, selanjutnya adalah menerima serangan dengan iklas. Dalam konteks aikido, menerima disini adalah menyambut serangan lawan. Aikido membuat pemahaman baru terhadap reaksi kita terhadap serangan lawan. Tidak menahan, tidak pula menyerang. Tidak berkhayal, tidak juga memaksakan konsentrasi. Ikhlaskan hati menerima serangan.

Selanjutnya, tuntun lawan ke arah yang aman bagi dia dan bagi kita. Saat kita berhasil mengendalikan serangan, iklaskan lawan untuk menyerah. Ikhlas saat kita berada diatas.

Pemahaman tentang besarnya peran ikhlas dalam aikido kembali ditekankan sensei Imanul Hakim, guru besar Aikido aliran Aiki-kenkyukai, dalam kunjungan di dojo Aikido PTSI, lantai 4 gedung Surveyor Indonesia, 12 Mei 2010.

Pelajaran Sensei Hakim memutarbalikan fakta bahwa untuk menjadi ahli bela diri harus menjadi kuat. Dalam aikido semua itu harus dikoreksi ulang. Dengan aikido, ketidakberdayaan dan kelemahan seorang nenek menjadi sebuah kekuatan. Sebaliknya, kekuatan seorang pria dewasa menjadi kelemahannya. Kekuatan sesungguhnya muncul ketika dia sanggup ikhlas menerima keadaan dan menempatkan diri dengan tepat dan tidak berniat mengalahkan lawan dengan mengandalkan kekuatannya. Kekuatan terletak pada hati yang ikhlas dan bersyukur.

Selain mengajarkan penempaan fisik dan mental, aikido juga mengajarkan spiritual. Spiritual ini yang akan mengantar aikidoka, sebutan terhadap mereka yang belajar aikido, kepada pemahaman jurus-jurus aikido. Penguasaan jurus-jurus ini akan membawa kepada filosofi no enemy, tidak ada musuh. Musuh hanya muncul karena cara pandang yang salah terhadap seseorang. Musuh dalam konteks aikido adalah orang yang berusaha membuat ketidakseimbangan terhadap alam. Tugas dari aikidoka untuk menjaga harmoni alam ini. Lawan bukan untuk dihindari, lawan juga bukan untuk diserang, tapi untuk diharmoniskan.

Adanya lawan dalam latihan aikido adalah salah satu cara untuk memahami ikhlas melalui gerakan aikido. Ikhlas tidak hanya diucapkan saja, tapi harus dapat dibuktikan. Melalui gerakan-gerakan dasarnya, Aikido dapat mengukur keiklasan seseorang melalui reaksi tubuh. Pada dasarnya, kita dapat melihat hati seseorang dari reaksi tubuh. Sama halnya dengan melihat raut wajah seseorang kita dapat melihat apakah dia sedang senang, sedih, kecewa atau bahagia.

Sensei Hakim lebih menekankan pemahaman terhadap esensi aikido daripada sekedar mengejar penguasaan jurus-jurus. Jurus-jurus hanya jalan atau alat untuk mendapatkan prinsip dasar aiki, yaitu:

1. Fudo Genri/ Immovable principles, prinsip untuk menyatukan pikiran,hati & tubuh.

2. Kihon Genri/ Basic Principles, prinsip dasar dalam gerakan. ini adalah prinsip yang mendasari cara bergerak yang baik sesuai hukum Aiki.

3. Aiki Genri, prinsip dasar keselarasan energi. Ini adalah prinsip yang mendasari proses harmonisasi yang harus dilakukan pada saat menghadapi konflik.

Aiki Kenkyukai sendiri adalah komunitas praktisi aikido yang dalam latihannya berusaha mengkaji aspek filosofis dari aikido disamping teknis. Filosofi Aikido sarat akan filosofi kehidupan. Jika seseorang mulai mempelajarinya, maka ia akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dan dapat digunakan di dalam kehidupan sehari-hari dan bukan sekedar tehnik belaka. Pada akhirnya ia dapat menerima dengan ikhlas terhadap perbedaan-perbedaan yang terjadi disekelilingnya dan mensyukurinya.

sumber: www.aiki-kenkyukai.com

Selasa, 22 November 2011

Taubat Dan Istighfar

Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily

Hendaknya cita-citamu berada pada tiga pokok:
1. Taqwa,
2. Taubat
3. dan Waspada.

Sedangkan pilar penegaknya melalui tiga hal pula:
1. Dzikir,
2. Istighfar
3. dan Diam: sebagai ubudiah kepada Allah Swt.

Sementara benteng tradisi ini melalui empat perkara:
1. Cinta,
2. Ridha,
3. Zuhud
4. dan Tawakkal.

Apabila Anda kehilangan taqwa dalam istiqamah, maka Anda jangan kehilangan taubat dan istighfar. Lemparkanlah dirimu di pintu keridhaan, dan lepaskanlah tujuan dan kehendakmu, bahkan melepaskan taubatmu, dengan penerimaan taubat dari-Nya atas dirimu. Allah swt. berfirman: ”Kemudian Allah menerima taubat mereka, agar mereka bertaubat.”

Ketika Syeikh Abul Hasan berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu, karena itu lindungilah aku, kendalikan aku, berilah aku kekuatan dan tolonglah diriku serta kokohkanlah aku. Lindungilah dan tirailah diriku dari makhluk-Mu, dan janganlah Engkau hinakan diriku di sisi Rasul-Mu.”

Tiba-tiba muncul kata-kata yang ditujukan kepadaku,
“Kamu ini musyrik.”
Lalu aku bertanya, “Bagaimana?”

Dijawab, “Sebab Anda takut dihinakan di hadapan makhluk. Seharusnya yang Anda takuti jika Allah menghinakan Anda dihadapan manusia. Disamping itu, hati Anda harus berkait dengan Allah, bukan dengan manusia, sebab Anda tahu mereka semua tak ada yang bermanfaat bagi Anda dan juga tidak membahayakan Anda. sepanjang hati Anda berkait dengan ilmu, kemampuan, ucapan, ketekunan dan ijtihad Anda, maka Anda bukanlah orang yang berharap kepada Allah, sampai Anda bisa putus asa dengan semuanya, semata bergantung dengan harapan kepada Allah Swt. dalam seluruh jiwa. Anda bisa menemukan ruh dan pengetahuan dari Allah, walaupun Anda tidak sampai pada hajat Anda, dan cahaya itu memutuskan Anda dari melihat kepada selain DiriNya dan yang menyempitkan diri Anda.”

Aku pernah bertemu Nabi Saw. bersabda: ”Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mendapatkan petunjuk sunnahku. Dan dia berpaling dari dunia, menghadap akhirat. Dia juga tidak bermaksiat kepada Allah. Jika terjadi kemaksiatan, ia cepat beristigfar kepada Allah, tobat dan kembali tobat.”

Lantas aku bertanya, “Apakah taubat dan kembali taubat itu?”
Rasulullah Saw. menjawab: ”Bertobat dari maksiat kepada Allah, dan kembali taubat dari taat kepada Allah, untuk menuju Allah.”

Benteng paling baik adalah segala yang muncul berupa khabar pada dirimu dalam istighfar. Hakikat istighfar, adalah bahwa diri Anda tidak memiliki ketetapan pada selain Allah. Allah swt. berfirman: ”Dan Allah tidak akan menyiksa mereka, sedang mereka sedang memohon ampunan.”

Aku pernah ingin menemui salah seorang diantara para raja, lalu dosaku menawarkan kepadaku. Ketika aku beristighfar dan taubat, aku menjadi melemah. lalu muncul kata-kata: “Ya, Allah, sesungguhnya aku memohon keteguhan dalam agama, beramal secara yakin dan mohon perlindungan kepada-Mu dari pertemuan dengan dosaku. Sebab dosa itu bisa melemahkan hatiku. Berikanlah kesaksian diriku demi Engkau, dengan kesaksian yang lebih menguatkan batin jiwaku dan lubuk hatiku.

Ya Allah, tabirilah diriku dengan Ampunan-Mu, kasihanilah daku dengan Rahmat-Mu, berilah kemampuan diriku dengan Kekuasaan-Mu, lapangkanlah diriku dengan Kehendak-Mu, berilah ilmu padaku dengan Ilmu yang sesuai dengan Ilmu-Mu, dan berikanlah diriku anugerah hikmah yang selaras dengan Hikmah-Mu, berikanlah padaku ucapan jujur dalam ibadah kepada-Mu.

Jadilah diri-Mu sebagai Pendengaran dan Penglihatan, Ucapan dan Hati, serta Akal bagiku, Tangan dan Penguat bagiku. Lindungilah diriku dari kesalahan, penyimpangan dan penentangan (kehendakMu). Lindungilah diriku dari dusta dalam ucapan dan tindakan serta tingkah laku. Lindungi diriku dari dusta dalam akad, persangkaan, dugaan, penglihatan mata dan penglihatan hati. Lindungi diriku dari kesalahan intuisi dan berfikir, begitu pula dari rahasia tersembunyi dalam godaan dan was-was, citarasa dan pemikiran, kemampuan dan kehendak, gerak dan diam, dan segala yang Engkau ketahui, wahai Dzat Yang Maha Tahu segala yang rahasia. Engkaulah Tuhanku, dan bagiku cukuplah ilmu-Mu. Aku tidak memohon dan tidak merinci.

(Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya dan Maha Murah). Inilah sekadar ibadah yang berlaku menurut kehendak-Mu, yakni ubudiah memohon dan meminta, merinci dan mentotal, ucapan dan tindakan, janji dan keadaan ruhani, dan sebagainya, berupa usaha, di diberi tanpa usaha dan meminta. (Sesungguhnya Tuhanku Maha Tahu segala sesuatu).”

Selasa, 24 Mei 2011

Sensei Imanul Hakim

"Orang yang paling kuat di aikido adalah orang yang paling murni hati dan jiwanya, paling ikhlas, dan paling sabar. Bukan orang yang paling banyak membanting lawan," kata Imanul hakim.

Suasana dojo (tempat pencerahan/tempat berlatih aikido) di jalan Cipete, Jakarta Selatan, Rabu menjelang pukul 20.00, mulai ramai. Satu demi satu aikidoka (sebutan untuk orang yang belajar aikido) berdatangan. Mereka terdiri dari siswa sekolah, mahasiswa, karyawan, para profesional, juga ibu-ibu.

Ruang berukuran 10 x 10 meter yang berlantai parkit itu sudah dialasi karpet karet. Di dinding ruangan tergantung beberapa poster bertuliskan huruf kanji Jepang. Sebuah foto O-sensei (maha guru) Morihei Ueshiba, pendiri aikido, disandingkan dengan poster-poster itu.

Seorang prig berkulit putih yang sering disapa Sensei Hakim, masuk ke dojo memperagakan beberapa teknik aikido. Ia memanggil Seorang senpai (aikidoka senior) untuk bertindak sebagai penyerang. Dengan wajah tenang, Sensei Hakim menahan serangan. Bahkan ia berputar-putar seperti sedang menari. Tak lama kemudian, senpai berbobot 100 kg itu hilang keseimbangan dan jatuh. Apa sebenarnya yang terjadi?

"Teknik aikido yang dilakukan dengan benar, akan membuat lawan tidak merasa dipaksa, tidak merasa ada dorongan, tidak merasa ada tarikan, tahu-tahu ia bergerak, kehilangan keseimbangan, dan jatuh. Ekspresinya meringis dan sekujur badannya seperti kram," kata Sensei Hakim pada saat istirahat. "Bukan karena ia menahan sakit, tetapi karena ia sulit mengendalikan diri," lanjutnya.

Tenaga orang itu sebenarnya yang dipakai untuk melawan dirinya sendiri, sampai akhirnya ia terjatuh. "Sementara ekspresi orang yang diserang tidak berubah, tenang, bahkan tersenyum. Jika berubah, berarti ada sisi negatif dalam dirinya, egonya yang tampil di situ. Dan itu sudah bukan aikido," ujarnya.

Menyatu dengan Spirit Aikido

Simpatik, tegas, bersahabat, itulah kesan pertama ketika kami menemui Sensei Hakim (33 tahun) di dojo tempatnya mengajar yang bernaung di bawah Yayasan Indonesia Aikikai. Posturnya yang tegap (tinggi 183 cm dan berat 80 kg) tampak begitu gagah pada saat mengenakan paduan dogi (baju untuk latihan) dan hakama (celana tradisional Jepang) untuk berlatih aikido. Pria berdarah campuran Lampung dan Belanda ini dalam mengajarkan aikido selalu menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada murid-muridnya.

"Saya belajar aikido di Jakarta sejak SMP. Hanya untuk mencari esensi bela diri saja," tuturnya. "Teknik saya dulu keras, tidak halus seperti sekarang ini. Dulu saya nggak percaya adanya energi atau kasih sayang," sambungnya.

Tetapi, setelah menjadi guru aikido di dojo Karawaci pada tahun 1998, dan selama lima tahun mengajar Paswapres (pasukan pengawal presiden), ia mulai merenungkan kembali esensi beladiri yang sebenarnya. "Kesimpulan saya, jika seseorang hanya mempelajari tekniknya saja, maka ia akan menjadi mesin pembunuh (killing machine). Lalu buat apa manusia dilatih jika untuk membunuh orang lain? Rasanya ada yang salah kalau beladiri dipakai untuk menghancurkan orang lain," lanjutnya.

Dasarnya cinta kasih

Setelah beberapa bulan memperdalam aikido di Jepang melalui beberapa guru, seperti Ikuhiro Kubota Shihan (Director of Nara Aikikai), Yohinobu Takeka Shihan (Director of A. K.I and Shonan Aikido Federation), dan Seigo Okamoto Soke (Head of Roppokai Daito-ryu Aikijujutsu), wawasannya semakin luas. Para sensei itu bukan sekedar mengajarkan teknik beladiri, melainkan lebih ke falsafah aikido seperti nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya dan spirit bushido (orang yang rela mengorbankan hidupnya demi hal yang dianggap mulia).

"Ternyata komponen utama dalam aikido adalah hati dan pikiran, bukan badan. Saya pun tersentuh. Saya mulai menyadari ternyata aikido ini ibarat bela diri sufi," katanya. Sufi adalah orang-orang yang mengabdikan diri dan seluruh hidup dan kehidupan mereka hanya untuk Tuhan semesta alam semata.

"Dalam hubungannya dengan bela diri sebenarnya bela diri Sufi itu tidak pernah ada, tapi hanya ungkapan atau istilah pribadi yang saya gunakan untuk menjelaskan esensi aikido, khususnya kepada mereka yang Muslim. Sama seperti falsafah Sufi, esensi aikido yang disebut takemusu aiki, tidak ada ikatan kecuali ikatan dengan Sang Pencipta. Setiap gerakan yang dilakukan terikat pada divine will dan pada tingkatan ini seseorang telah terlepas ego dan nafsu rendahnya. "Hal tersebut dijelaskan oleh O-Sensei," katanya. Aikido dasarnya cuma cinta kasih, kasih sayang kepada semua makhluk, sifatnya absolut, bahkan kepada lawan atau musuh kita. "Ini yang membuat saya jatuh cinta pada aikido," tuturnya.

Diterapkan ke semua aspek kehidupan

Sulit memisahkan antara sosok Hakim dengan aikido. Agaknya ilmu beladiri asal Jepang itu sudah merasuk ke dalam jiwanya. Apabila disodori pertanyaan, jawabannya selalu mengacu pada falsafah aikido. Sebab menurutnya, filosofi aikido dapat diterapkan ke semua aspek kehidupan, seperti ke pekerjaan, kehidupan rumah tangga, dan kesehatan.

"Intinya adalah keharmonisan, yaitu keseimbangan antara hati, tubuh, dan pikiran. Pikiran kita harus jernih, hati harus bersih, tubuh harus terpelihara. Pikiran selalu dimuati hal-hal yang positif, tubuh diisi dengan makanan yang sealami mungkin, dan hati dijaga agar selalu pada zona tulus dan ikhlas," tuturnya.

Tujuan aikido menurutnya bukanlah semata-mata belajar secara teknis mengalahkan orang yang menyerang, tetapi lebih pada penempaan diri. "Bagaimana menjaga keharmonisan diri sendiri, yaitu menyatukan hati, pikiran, dan tubuh, dalam satu kesatuan. Terkadang hati berbeda dengan pikiran dan badannya, sehingga terjadi konflik internal. Konflik inilah yang merupakan sumber segala masalah. Penyakit sering muncul dari konflik internal ini, karena adanya ketidak-seimbangan dalam tubuh," lanjutnya.

Pemikir yang Sering Merenung

Sensei Hakim adalah seorang pemikir, ia mengaku sejak remaja sudah sering merenung tentang nilai-nilai kehidupan. Misalnya, mengapa alam ini ada, mengapa ia ada, bagaimana Sang Pencipta mengatur alam ini. Sehingga, menurutnya, jika konsep sehat dikaitkan dengan kebesaran Tuhan, bukanlah hanya tidak sakit, tetapi merupakan tanggung jawab manusia untuk selalu menjaga kesehatannya. "Tuhan menciptakan kita dalam bentuk yang sempurna, ya jangan dirusak. Hidup ini amanah. Kita diberi hati adalah amanah, artinya harus dipelihara. Diberi pikiran juga amanah, demikian pula diberi badan pun amanah," katanya lagi.

Anda agaknya spiritual sekali? Pria yang pernah kuliah di Universitas Muhammadiyah jurusan tarbiyah itu tersenyum. " Dalam hidup saya ada dua hal yang menarik. Pertama, masalah spiritual dan agama. Kedua, bela diri. Kedua hal ini seakan-akan berjalan seiring, tetapi tidak bersatu. Ibaratnya satu di kanan, satu di kiri. Tetapi dalam perjalanan hidup saya, tiba-tiba keduanya kok semakin mendekat, dan akhirnya menyatu," ujarnya.

Aikido dan spiritualisme

Pun kepada murid-muridnya yang kebanyakan non-Muslim, ia selalu menanamkan nilai-nilai spiritual dengan bahasa universal. "Saya sering mengajak mereka untuk ikut merenung tentang alam semesta, atau sekadar merenungkan siapa diri kita, siapa Sang Maha Pencipta, dan tidak lupa saya selalu mengingatkan agar sebagai makhluk kita harus banyak bersyukur," katanya.

Ia pun sering memberikan kiatnya agar bisa harmonis dengan orang lain. "Kalau kita bisa melihat keagungan Tuhan pada diri orang lain, bahkan pada lawan kita, kita akan berhenti memusuhinya. Mungkin saja keberadaannya memang diciptakan untuk kita, untuk saling mengambil pelajaran. Seperti halnya fenomena siang dan malam di alam semesta ini, bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk mencapai suatu keharmonisan."

Adakah murid yang protes jika Anda memberi nasihat seperti itu? "Ya, ada murid yang nggak tahan. Mereka bilang, saya ini ngajar apa?" katanya sambil tertawa.

Diet Chi

Demi menjaga kesehatan, dalam kesehariannya bersama Shanti, istrinya, ia berusaha mengkonsumsi makanan yang bersahabat dengan tubuh. "Kunci utamanya adalah keseimbangan. Saya tidak pantang makan daging. Roti pilihan saya roti gandum. Sayur dan buah-buahan organik selalu saya usahakan, kendati masih mahal," katanya. Sedangkan makanan dalam kaleng, seperti makanan ringan atau kornet, sudah lama dihindarinya.

Pemilihan makanan sehat itu tidak terlepas dari sebuah buku Diet Chi (bahasa Mandarin chi adalah energi) yang pernah dibacanya. "Saya mencoba menerapkannya dalam keseharian meski agak sulit, karena kita sudah terkepung oleh berbagai makanan yang artifisial," ujarnya.

Buku itu membahas empat kategori penting yang berkaitan dengan chi makanan. Makanlah sesuatu pada usia chi-nya. "Misalkan kita memetik tomat dari pohonnya, lalu kita letakkan di meja tanpa kita masukkan ke kulkas. Berapa lama ia tahan? Katakanlah tiga hari, maka itulah usia chi atau usia kehidupan tomat itu, "katanya. Tetapi dengan teknologi, kita bisa memanipulasinya, misalnya dengan memasukkannya ke kulkas. "Tomat bisa tahan berminggu-minggu, tapi energinya 'terbang', sehingga yang kita makan hanya "bangkainya". Vitamin memang tersisa, tetapi kita tidak lagi mendapatkan energi yang bagus, " tuturnya.

Lalu, usahakan makan sesuatu yang tidak terkontaminasi bahan kimia, seperti sayur organik, buah organik, karena sayur dan buah organik tidak diberi pestisida. "Hal yang baik untuk pertanian kita, makanlah apa yang tumbuh di negeri/tanah sendiri," lanjutnya. Tidak mengimpor dari luar negeri, karena kita hidup di iklim yang sama, lahir di tempat yang sama, chi-nya sama. Yang kita butuhkan adalah makanan yang chi-nya sama dengan kita. "Kita nggak butuh makanan yang tumbuh di negara empat musim karena chi-nya berbeda. Kita sering bangga makan makanan luar negeri, tetapi menurut diet chi, itu salah," sambungnya.

Yang keempat, jangan memproses makanan secara berlebihan. "Kita boleh merebus makanan, tetapi jangan terlalu lama, karena chi-nya akan rusak," katanya.

Self healing dan obat alami

Dalam rangka menjaga kebugaran sebagai rasa tanggungjawab merawat kesehatannya, sebisa mungkin ia menghindari pemakaian obat-obatan. "Saya suka mengkonsumsi minuman prebiotik, terutama kalau sakit perut karena salah makan. Tetapi kalau sakit perut karena keracunan, saya memilih norit. Saya lebih suka minum obat-obat alami seperti itu," katanya.

Bahkan, ia punya cara sendiri untuk mengusir rasa sakit, seperti pengalamannya menghadapi sakit gigi. Padahal, pada saat yang bersamaan waktunya, ia harus mengajar di dojo. "Saya cuma diam mengamati diri saya sendiri, dan berbicara di dalam hati. Saya tahu gigi saya berlubang, dan saya harus ke dokter. Tapi hari ini saya harus mengajar, kasihan murid-murid saya. Besok kita ke dokter, tapi sekarang bantu saya karena saya harus konsentrasi. Gigi yang sakit diajak mengobrol saja, spontan sakitnya hilang. Berarti kita bisa bernegosiasi dengan tubuh kita, berkompromi, berbicara dengan diri kita sendiri. Biasanya berhasil, tetapi tentu saja itu dengan seizin Allah," katanya.

Apakah dengan melatih teknik-teknik aikido, seseorang bisa mendapatkan kesembuhan? "Insya Allah, bisa. Beberapa orang yang mengalami pengapuran, bisa sembuh. Tetapi tentu saja bukan penyakit yang berat seperti kanker," katanya.

Menghidupkan kembali nilai-nilai moral

Dengan membentuk komunitas aikido, ia bertujuan menghidupkan kembali nilai-nilai moral dan spiritual. "Harapan saya, aikido bisa menjadi sumbangan untuk bangsa ini. Bangsa kita adalah bangsa yang kaya tetapi miskin hati. Kita banyak dikelilingi oleh orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri dan kelompoknya. Tetapi tidak bisa melihat apa yang terbaik untuk bangsa ini dan berkorban untuk itu," ujarnya.

Sebelum latihan, Sensei Hakim mengumpulkan murid-muridnya dan mengajak mereka duduk berhadapan. Mereka melakukan meditasi bersama. Meditasi itu disebut mokuso, artinya membersihkan hati dan pikiran untuk melakukan satu hal secara fokus 100%. Sebab, selama di dojo mereka tidak diperkenankan membawa hal lain. Seperti masalah yang ruwet di rumah, energi negatif dalam pikiran, emosi atau rasa kesal. "Yang harus selalu tertanam adalah rasa damai dan cinta kasih terhadap Sang Pencipta dan alam semesta yang indah ini,"katanya.

Sumber: http://cybermed.cbn.net.id/