Blogroll

Minggu, 22 April 2012

Adab Berdzikir - 1

Berdzikir mempunyai adab-adab tertentu, baik  sebagai penghantar, sesudah, atau ketika peiaksanaannya. Ada adab yang bersifat lahiriah dan ada pula yang bersifat batiniah.

Adab Pengantar
Sebelum meiaksanakan dzikir, sebaiknya sang salik terlebih dulu bertobat, membersihkan jiwa dengan riyadhoh (olah) rohani, melembutkan sirr (batin) dengan menjauhkan dan dengan kaitan hati dengan makhluk, memutuskan segaia penghaiang, memahami ilmu-ilmu agama, dan mempelajari syarat rukun dalam fardlu 'ain, mempertegas tujuan-tujuuan luhur sebagai spirit tahapan utamanya, yang bersifat syar'i. Ia juga harus memilih dzikir yang sesuai dengan kondisi batinnya.
Seteiah itu, barulah ia berdzikir dengan tekun dan terus menerus.
Di antara adab yang perlu diperhatikan yaitu hendaknya ia memakai pakaian yang halal, suci, dan wangi. Kesucian batin bisa terwujud dengan memakan makanan yang halal. Dzikir  waiau pun bisa melenyapkan bagian-bagian yang berasal dari makanan haram, tetapi manakaia batinnya sudah kosong dari yang haram atau syubhat, maka dzikir tersebut akan lebih mencerahkan qalbu.

Namun, jika dalam batinnya masih terdapat sesuatu yang haram, ia terlebih dahulu akan dicuci dan dibersihkan oleh dzikir. Pada kondisi tersebut, fungsi dzikir sebagai penerang qalbu menjadi sifatnya lebih lemah. Ibarat air yang dipergunakan untuk mencuci sesuatu yang terkena najis, najisnya akan hilang. Tetapi, pada saat yang sama ia tak bisa membuat benda yang terkena najis tadi menjadi lebih bersih.
Oleh karena itu, sebaiknya ia dicuci uiang sehingga ketika benda yang dicuci itu teiah bersih dari najis, ia akan bertambah cemerlang dan bersinar ketimbang saat dicuci pertama kali. Demikian puia saat dzikir turun ke dalam qalbu. Kaiau qalbu tersebut geiap, dzikir akan membuatnya terang. Tetapi, kaiau qalbu tersebut sudah terang, dzikir akan membuatnya jauh lebih terang.

Adab Penyerta
Ketika dzikir dilaksanakan hendaknya disertai niat ikhlas. Majelis tempat dzikirnya diberi aroma wewangian untuk para maiaikat dan jin. Ketika duduk hendaknya bersila menghadap kibiat, biia berrdzikir sendirian. Tetapi, kaiau bersama-sama, hendaknya ia berdzikir dalam lingkungan majelis. Seianjutnya telapak tangannya diletakkan di atas paha dan matanya dipejamkan seraya terus menghadap ke depan.
Sebagian Ulama berpandangan, jika ia berada di bawah bimbingan seorang syekh (Mursyid), ia membayangkan sang syekh sedang berada di hadapannya. Sebab, ia adalah pendamping dan pembimbing dalam meniti jalan rohani. Selain itu, hendaknya qalbu dan dzikirnya itu dikaitkan dengan orientasi sang syekh disertai keyakinan bahwa semua itu bersambung dan bersumber dari Nabi saw. Sebab, syekhnya itu merupakan wakil Nabi saw.

(Namun sejumlah Ulama Thariqah Sufi melarang membayangkan wajah syeikh, karena apa pun seorang syeikh atau Mursyid kategorinya tetap makhluq. Di dalam Al-Qur'an disebutkan, "Kemana pun engkau menghadap, maka disanalah Wajah Allah." Bukan wajah makhluk. Dikawatirkan pula, jika di akhir hayat seseorang, yang tercetak dalam bayangannya adalah wajah makhluk, para Ulama Sufi mempertanyakan, apakah ia secara hakiki husnul khotimah atau su'ul khotimah? Pent.)
Ketika membaca La Ilaaha Illalloh dengan penuh kekuatan disertai pengagungan. Ia naikkan kalimat tersebut dari atas pusar perut. Ialu, dengan membaca Laa Ilaaha hendaknya ia berniat melenyapkan segaia sesuatu seiain Allah swt, dari qalbu. Dan ketika membaca Illalloh, hendaknya ia menghujamkan ke arah jantung, agar Illalloh tertanam dalam qalbu, kemudian mengalirkan ke seluruh tubuh serta menghadirkan dzikir dalam qalbunya setiap saat.

Menurut sebagian Ulama mengatakan, "Pengulangan dzikir tidak benar, kecuali dengan refleksi makna, selain  makna yang pertama."
Dan tingkatan dzikir yang minimal adalah setiap kali seseorang membaca Laa Ilaaha Illalloh, qalbunya harus bersih dari segala sesuatu selain Allah swt,. Jika masih ada, ia harus segera melenyapkannya. Jika ketika berdzikir qalbunya masih menoleh pada sesuatu selain Allah swt, berarti ia telah menempatkan berhala bagi dirinya.
Allah swt, berfirman, "Tahukah kamu orang yang mempertuhankan hawa nafsunya." (Q.S. al-Furqan: 43) `Janganiah kamu membuat Tuhan selain Allah ." (Q.S. al-Isra': 22). "Bukankah Aku teiah memerintahkan kepadamu wahai Bani Adam agar kamu tidak menyembah syetan." (Q.S. Yasin : 60).

Dalam hadits, Rasul saw juga bersabda, "Sungguh rugi hamba dinar dan sungguh rugi hamba dirham." Dinar dan dirham tidak disembah dengan cara rukuk dan sujud kepadanya, tetapi dengan adanya perhatian qalbu kepada keduanya.

La Ilaaha Illalloh, tidak benar diucapkan kecuali dengan penafian segala hal selain Allah dari diri dan qalbunya. Manakala dalam dirinya masih ada gambaran inderawi, walau seribu kali diucapkan, maka maknanya tidak membekas di qalbu.

Namun, bila qalbu tersebut telah kosong dari hal-hal seiain Allah swt, meskipun hanya membaca kata Allah, satu kali saja, ia akan menemukan kelezatan yang tak bisa diungkapkan.

Syeikh Abdurrahman al-Qana'y mengatakan, " Suatu kali aku mengucapkan La Ilaaha Illalloh , dan tak pernah kembali lagi padaku."
Di kalangan Bani Israel ada seorang budak hitam yang setiap kali ia membaca  La Ilaaha Illalloh, tubuhnya dari kepala hingga kaki-berubah warna putih. Demikianlah, ketika seorang hamba mewujudkan kalimat La Ilaaha Illalloh, sebagai kondisi qalbunya, lisan tak bisa mengaksentuasikan.

Meskipun La Ilaaha Illalloh adalah segala muara oreintasi, ia adalah kunci pembuka hakikat qalbu, seiain akan mengangkat derajat para salik ke alam rahasia.

Ada yang memilih untuk membaca dzikir di atas dengan cara disambung sehingga seolah-olah menjadi satu kata tanpa tersusupi oleh sesuatu dari luar ataupun lintasan pikiran dengan maksud agar setan tak sempat masuk. Cara membaca dzikir seperti ini dipilih dengan melihat kondisi salik yang masih lemah dalam mendaki jaian spiritual akibat belum terbiasa. Seiain terutama karena ia masih tergolong pemula. Menurut para uiama, ini adaiah cara tercepat untuk membuka qalbu dan mendekatkan diri pada Allah swt,.

Menurut sebagian ulama, memanjangkan bacaan La Ilaaha Illalloh  lebih baik dan lebih disukai. Karena, pada saat dipanjangkan, dalam benaknya muncul semua yang kontra Allah, kemudian, semua itu ditiadakan seraya diikuti dengan membaca Illalloh. Dengan demikian, cara ini lebih dekat kepada sikap ikhlas sebab ia tidak mengokohkian sifat Ilahiyah, yaitu walaupun dinafikan dengan Laa Ilaaha secara nyata, sesungguhnya ia telah menetapkan dengan "Illa" keadaannya, namun "Illa" itu sendiri merupakan cahaya yang ditanamkan dalam qalbu yang kemudian mencerahkannya.

Sebagian lagi berpendapat sebaliknya. Menurut mereka, tidak membaca panjang lebih utama. Sebab, bisa jadi kematian datang di saat sedang membaca la ilaha (tidak ada tuhan), sebelum sampai pada kata Illalloh, (kecuali Allah swt,).

Sementara menurut yang iain, biia kalimat tersebut dibaca dengan tujuan untuk berpindah dari wiiayah kekufuran menuju iman, maka tidak membaca panjang lebih utama agar ia lebih cepat berpindah kepada iman. Namun, kalau ia berada dalam kondisi iman, membaca secara panjang lebih utama .

Adab berikut
Manakala sang salik terdiam dengan upaya menghadirkan qalbunya, karena bersinggungan dengan anugerah ruhani dibalik dzikir berupa kondisi ghaybah (kesirnaan diri) paska dzikir, yang juga disebut dengan "kelelapan", maka jika Allah swt, mengirim angin untuk menebar rahmat-Nya berupa hujan, Allah swt, juga mengirim angin dzikir untuk menebar rahmat-Nya yang mulia berupa sesuatu yang bisa menyuburkan qalbu dalam sesaat saja. Padahal, itu tak bisa dicapai meskipun lewat perjuangan ruhani dan riyadhoh tiga puluh tahun lamanya. Adab-adab ini harus dimiliki oleh seorang pedzikir yang dalam kondisi sadar dan bisa memilih.

Sedangkan bagi pedzikir yang kehilangan pilihan karena tidak sadar bersamaan dengan masuknya limpahan dzikir dan rahasia ke dalam dirinya, lisannya bisa jadi mengucapkan kata Allah, Allah, Allah atau Huw, Huw, Huw, Huw, atau La, La, La, atau Aa..Aa..Aa.. atau  Ah, Ah, Ah, atau suara yang berbunyi. Adabnya adalah pasrah total pada anugerah Ilahi yang membuatnya tenang dan diam.

Semua adab di atas diperlukan oleh mereka yang akan melakukan dzikir lisan. Adapun dzikir qalbu tidak membutuhkan adab-adab tersebut.

source: www.sufinews.com

Rabu, 21 Maret 2012

Shohibu Baiti

Shohibu baiti… Ya shohibu baiti…
Tuan rumahku… Wahai tuan rumah(ku)


Imamu hayatii… Ya Imamu hayati…
Pemimpin hidupku… Wahai pemimpin hidupku

Mursyidu imanii… Anta syamsu qolbiy…
Penuntun imanku… Engkau (cahaya) mentari hatiku

Qomaru fuadi… Ya qurratu ‘aini…
Rembulan jiwaku… Wahai penyejuk mataku

Syafi’u nashibiy… Ya maula jihadiy…
Penolong (dari) beban(berat)ku… Wahai muara perjuanganku

Ufuqu Syauqi… Ya baabu akhirati…
Cakrawala rinduku… Wahai pintu keabadianku

Download mp3 nya..!

Minggu, 08 Januari 2012

RASA dalam AIKIDO

Karena tidak ada pertandingan di Aikido kita harus memberikan pemikiran-hati dengan sifat latihan kita. Sisi spiritual praktek juga penting, tetapi jika kita terlalu menekankan hal itu pelatihan kita menjadi idealis di alam dan aspek realistis adalah diabaikan.Kata (Bentuk) dan waza (Teknik) harus benar diakui dalam praktek.

Kata untuk Waza

Kata harus dilakukan menurut urutan tertentu atau metode yang telah diatur sebelumnya yang didasarkan pada hubungan rasional (riai). Jadi, kita tidak jatuh karena kita yang dilemparkan melainkan kita berlatih kata yang dirancang bagi kita untuk dilempar. Ketika kita menguasai sebuah gerakan rasional (kata), hal ini dinyatakan sebagai gerakan alami (Waza). Artinya, jika Anda menjadi mampu mengeksekusi kata secara spontan sebagai akibat dari latihan berulang, Anda tidak lagi melakukan suatu kata tetapi melaksanakan Waza. Kita belajar melalui kata dan menjadi tak sadar kenyataan. Dengan kata lain, selama sebagai gerakan membutuhkan perhatian kita mereka kata, ketika kata menjadi spontan mereka menjadi Waza.

Kami pertama praktik kata dasar (kihon Waza, teknik dasar) untuk mempelajari gerakan Aikido. Dasar-dasar standar (cara melihat dan berpikir) dan perspektif akal umum untuk mengamati hal-hal dengan benar. Kita harus memahami esensi dari kata, bukan penampilan luar mereka.

Sebagai contoh, dalam sebuah teka-teki yang melibatkan potongan kayu saling terkait, yang tahu penempatan (stabilitas) dari masing-masing bagian dengan memahami bentuk dan alam. Dengan cara yang sama, kita dapat mengekspresikan kata yang umum untuk semua orang dengan menunjukkan bagian umum dasar struktur tubuh manusia (misalnya, poin seperti siku menekuk ke dalam-satunya) dan kita harus menggunakan bagian-bagian dasar rasional. Ini mungkin tampak berlebihan untuk menggunakan istilah rational atau logical namun konsep-konsep ini hanya masalah akal sehat dan perlu penjelasan.

Selama kita bertahan dalam melihat kata dangkal, kita akan mulai berpikir bahwa mereka adalah penting khusus. Seseorang tidak dapat secara sistematis atau rasional menjelaskan kata apapun hanya dengan belajar secara berulang tanpa pemahaman tentang mengapa kata tertentu yang dianggap dasar. Apa yang kita peroleh dengan belajar hanya berulang-ulang adalah pelestarian bentuk (transmisi bentuk eksternal) dan tidak kemampuan untuk membuat (pemahaman tentang esensi kata). Dengan kata lain, seseorang tidak mengerti apa yang dia lakukan.

Dasar tidak sesuatu yang harus dipraktekkan tapi untuk dipahami. Apa yang mereka menunjukkan adalah mekanisme bagaimana ketidakseimbangan lawan dan menciptakan kesempatan untuk aplikasi teknik. Jika Anda salah paham ini berarti memimpin dan membimbing akan menimbulkan keyakinan bahwa seseorang dapat memimpin lawannya sirkuler. Hal ini terjadi karena salah satu tidak menyadari bahwa memimpin pasangan sirkuler menyiratkan pemisahan dan tidak jadi melihat bahwa praktek adalah sebuah ekspresi dari yin dan penggunaan kekuasaan dalam Aiki melibatkan mendorong.

Kata: Alat Pelatihan

Dalam pelatihan kita berlatih banyak teknik tetapi mereka semua variasi dari sikap tunggal. Oleh karena itu, ikkyo, shihonage dan teknik lainnya adalah sama. Alasan mereka terlihat berbeda hanya karena penampilan luar mereka terlihat. Kata adalah ekspresi dari sejumlah variasi melalui gerakan dari sebuah sikap tunggal dan tidak lebih dari alat untuk pelatihan tubuh untuk bergerak bebas. Gagasan bahwa satu adalah semua dan semua adalah satu bukan hanya masalah spiritual. Memang benar untuk tubuh kita juga.

Ini tidak berarti bahwa ada metode yang berbeda tergantung pada teknik, misalnya, mengatakan bahwa ikkyo dipraktekkan dalam satu cara dan ini dan itu teknik dengan cara lain. Mereka semua manifestasi dari gerakan tunggal. Artinya, kita berlatih berbagai kata untuk memahami gerakan tunggal asli. Ini tidak berarti bahwa ikkyo dan shihonage adalah dari nilai sebagai teknik dasar. Kita berlatih mereka hanya sebagai sarana yang nyaman untuk memahami yin dan yang dari sikap (mendasar).

Praktek Aikido adalah praktek yin. Menggunakan Judo sebagai contoh, itu seperti praktik mitra daripada randori (latihan bebas). Yin mewakili praktek terutama urutan praktek yang telah disepakati. Dengan demikian, pergantian dalam pelatihan dari penerimaan serangan ke penerapan teknik ini hanya mungkin di mana perbedaan dalam kemampuan ada. Ketika kemampuan oneâ lawan lebih unggul ini tidak mungkin. Ini adalah titik kunci dalam praktek.

Waza (gerakan alami) dinyatakan sesuai dengan level dan substansi mereka (teknik) diwujudkan secara berbeda setiap kali. Hal ini karena apa yang secara alami memiliki kemampuan sebagai dibawa keluar melalui praktik berulang) dinyatakan melalui hubungan tertentu (bentuk).

Rabu, 23 November 2011

Your Strength is Your Weakness

Apapun kondisi kita, entah itu lemah, kuat, besar, kecil, tinggi, pendek, ternyata tidak menjadi halangan untuk dapat mengalahkan lawan. Selama kita dapat mengiklaskan jiwa dan raga untuk menghadapi keadaan apa adanya, apapun bentuknya, kita akan selalu dalam kondisi siap. Ikhlas terhadap diri sendiri.

Setelah ikhlas menerima kondisi apapun, selanjutnya adalah menerima serangan dengan iklas. Dalam konteks aikido, menerima disini adalah menyambut serangan lawan. Aikido membuat pemahaman baru terhadap reaksi kita terhadap serangan lawan. Tidak menahan, tidak pula menyerang. Tidak berkhayal, tidak juga memaksakan konsentrasi. Ikhlaskan hati menerima serangan.

Selanjutnya, tuntun lawan ke arah yang aman bagi dia dan bagi kita. Saat kita berhasil mengendalikan serangan, iklaskan lawan untuk menyerah. Ikhlas saat kita berada diatas.

Pemahaman tentang besarnya peran ikhlas dalam aikido kembali ditekankan sensei Imanul Hakim, guru besar Aikido aliran Aiki-kenkyukai, dalam kunjungan di dojo Aikido PTSI, lantai 4 gedung Surveyor Indonesia, 12 Mei 2010.

Pelajaran Sensei Hakim memutarbalikan fakta bahwa untuk menjadi ahli bela diri harus menjadi kuat. Dalam aikido semua itu harus dikoreksi ulang. Dengan aikido, ketidakberdayaan dan kelemahan seorang nenek menjadi sebuah kekuatan. Sebaliknya, kekuatan seorang pria dewasa menjadi kelemahannya. Kekuatan sesungguhnya muncul ketika dia sanggup ikhlas menerima keadaan dan menempatkan diri dengan tepat dan tidak berniat mengalahkan lawan dengan mengandalkan kekuatannya. Kekuatan terletak pada hati yang ikhlas dan bersyukur.

Selain mengajarkan penempaan fisik dan mental, aikido juga mengajarkan spiritual. Spiritual ini yang akan mengantar aikidoka, sebutan terhadap mereka yang belajar aikido, kepada pemahaman jurus-jurus aikido. Penguasaan jurus-jurus ini akan membawa kepada filosofi no enemy, tidak ada musuh. Musuh hanya muncul karena cara pandang yang salah terhadap seseorang. Musuh dalam konteks aikido adalah orang yang berusaha membuat ketidakseimbangan terhadap alam. Tugas dari aikidoka untuk menjaga harmoni alam ini. Lawan bukan untuk dihindari, lawan juga bukan untuk diserang, tapi untuk diharmoniskan.

Adanya lawan dalam latihan aikido adalah salah satu cara untuk memahami ikhlas melalui gerakan aikido. Ikhlas tidak hanya diucapkan saja, tapi harus dapat dibuktikan. Melalui gerakan-gerakan dasarnya, Aikido dapat mengukur keiklasan seseorang melalui reaksi tubuh. Pada dasarnya, kita dapat melihat hati seseorang dari reaksi tubuh. Sama halnya dengan melihat raut wajah seseorang kita dapat melihat apakah dia sedang senang, sedih, kecewa atau bahagia.

Sensei Hakim lebih menekankan pemahaman terhadap esensi aikido daripada sekedar mengejar penguasaan jurus-jurus. Jurus-jurus hanya jalan atau alat untuk mendapatkan prinsip dasar aiki, yaitu:

1. Fudo Genri/ Immovable principles, prinsip untuk menyatukan pikiran,hati & tubuh.

2. Kihon Genri/ Basic Principles, prinsip dasar dalam gerakan. ini adalah prinsip yang mendasari cara bergerak yang baik sesuai hukum Aiki.

3. Aiki Genri, prinsip dasar keselarasan energi. Ini adalah prinsip yang mendasari proses harmonisasi yang harus dilakukan pada saat menghadapi konflik.

Aiki Kenkyukai sendiri adalah komunitas praktisi aikido yang dalam latihannya berusaha mengkaji aspek filosofis dari aikido disamping teknis. Filosofi Aikido sarat akan filosofi kehidupan. Jika seseorang mulai mempelajarinya, maka ia akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dan dapat digunakan di dalam kehidupan sehari-hari dan bukan sekedar tehnik belaka. Pada akhirnya ia dapat menerima dengan ikhlas terhadap perbedaan-perbedaan yang terjadi disekelilingnya dan mensyukurinya.

sumber: www.aiki-kenkyukai.com

Selasa, 22 November 2011

Taubat Dan Istighfar

Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily

Hendaknya cita-citamu berada pada tiga pokok:
1. Taqwa,
2. Taubat
3. dan Waspada.

Sedangkan pilar penegaknya melalui tiga hal pula:
1. Dzikir,
2. Istighfar
3. dan Diam: sebagai ubudiah kepada Allah Swt.

Sementara benteng tradisi ini melalui empat perkara:
1. Cinta,
2. Ridha,
3. Zuhud
4. dan Tawakkal.

Apabila Anda kehilangan taqwa dalam istiqamah, maka Anda jangan kehilangan taubat dan istighfar. Lemparkanlah dirimu di pintu keridhaan, dan lepaskanlah tujuan dan kehendakmu, bahkan melepaskan taubatmu, dengan penerimaan taubat dari-Nya atas dirimu. Allah swt. berfirman: ”Kemudian Allah menerima taubat mereka, agar mereka bertaubat.”

Ketika Syeikh Abul Hasan berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu, karena itu lindungilah aku, kendalikan aku, berilah aku kekuatan dan tolonglah diriku serta kokohkanlah aku. Lindungilah dan tirailah diriku dari makhluk-Mu, dan janganlah Engkau hinakan diriku di sisi Rasul-Mu.”

Tiba-tiba muncul kata-kata yang ditujukan kepadaku,
“Kamu ini musyrik.”
Lalu aku bertanya, “Bagaimana?”

Dijawab, “Sebab Anda takut dihinakan di hadapan makhluk. Seharusnya yang Anda takuti jika Allah menghinakan Anda dihadapan manusia. Disamping itu, hati Anda harus berkait dengan Allah, bukan dengan manusia, sebab Anda tahu mereka semua tak ada yang bermanfaat bagi Anda dan juga tidak membahayakan Anda. sepanjang hati Anda berkait dengan ilmu, kemampuan, ucapan, ketekunan dan ijtihad Anda, maka Anda bukanlah orang yang berharap kepada Allah, sampai Anda bisa putus asa dengan semuanya, semata bergantung dengan harapan kepada Allah Swt. dalam seluruh jiwa. Anda bisa menemukan ruh dan pengetahuan dari Allah, walaupun Anda tidak sampai pada hajat Anda, dan cahaya itu memutuskan Anda dari melihat kepada selain DiriNya dan yang menyempitkan diri Anda.”

Aku pernah bertemu Nabi Saw. bersabda: ”Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mendapatkan petunjuk sunnahku. Dan dia berpaling dari dunia, menghadap akhirat. Dia juga tidak bermaksiat kepada Allah. Jika terjadi kemaksiatan, ia cepat beristigfar kepada Allah, tobat dan kembali tobat.”

Lantas aku bertanya, “Apakah taubat dan kembali taubat itu?”
Rasulullah Saw. menjawab: ”Bertobat dari maksiat kepada Allah, dan kembali taubat dari taat kepada Allah, untuk menuju Allah.”

Benteng paling baik adalah segala yang muncul berupa khabar pada dirimu dalam istighfar. Hakikat istighfar, adalah bahwa diri Anda tidak memiliki ketetapan pada selain Allah. Allah swt. berfirman: ”Dan Allah tidak akan menyiksa mereka, sedang mereka sedang memohon ampunan.”

Aku pernah ingin menemui salah seorang diantara para raja, lalu dosaku menawarkan kepadaku. Ketika aku beristighfar dan taubat, aku menjadi melemah. lalu muncul kata-kata: “Ya, Allah, sesungguhnya aku memohon keteguhan dalam agama, beramal secara yakin dan mohon perlindungan kepada-Mu dari pertemuan dengan dosaku. Sebab dosa itu bisa melemahkan hatiku. Berikanlah kesaksian diriku demi Engkau, dengan kesaksian yang lebih menguatkan batin jiwaku dan lubuk hatiku.

Ya Allah, tabirilah diriku dengan Ampunan-Mu, kasihanilah daku dengan Rahmat-Mu, berilah kemampuan diriku dengan Kekuasaan-Mu, lapangkanlah diriku dengan Kehendak-Mu, berilah ilmu padaku dengan Ilmu yang sesuai dengan Ilmu-Mu, dan berikanlah diriku anugerah hikmah yang selaras dengan Hikmah-Mu, berikanlah padaku ucapan jujur dalam ibadah kepada-Mu.

Jadilah diri-Mu sebagai Pendengaran dan Penglihatan, Ucapan dan Hati, serta Akal bagiku, Tangan dan Penguat bagiku. Lindungilah diriku dari kesalahan, penyimpangan dan penentangan (kehendakMu). Lindungilah diriku dari dusta dalam ucapan dan tindakan serta tingkah laku. Lindungi diriku dari dusta dalam akad, persangkaan, dugaan, penglihatan mata dan penglihatan hati. Lindungi diriku dari kesalahan intuisi dan berfikir, begitu pula dari rahasia tersembunyi dalam godaan dan was-was, citarasa dan pemikiran, kemampuan dan kehendak, gerak dan diam, dan segala yang Engkau ketahui, wahai Dzat Yang Maha Tahu segala yang rahasia. Engkaulah Tuhanku, dan bagiku cukuplah ilmu-Mu. Aku tidak memohon dan tidak merinci.

(Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya dan Maha Murah). Inilah sekadar ibadah yang berlaku menurut kehendak-Mu, yakni ubudiah memohon dan meminta, merinci dan mentotal, ucapan dan tindakan, janji dan keadaan ruhani, dan sebagainya, berupa usaha, di diberi tanpa usaha dan meminta. (Sesungguhnya Tuhanku Maha Tahu segala sesuatu).”